Cari Apa...???

Signatur

Signatur

Pencet Donk Gan...!!!


Pendidikan Perspektif Islam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling mulia diantara makhluk ciptaannya yang lain, hal ini dapat kita lihat dari proses penciptaan manusia yang terdapat dalam Al-Qur’an surat al-Mu’minun ayat 12-16. Dan juga manusia dijadikan khalifah dimuka bumi ini, dan untuk dapat menjadi khalifah tentunya manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang akan didapat melalui pendidikan. Dalam kehidupan manusia, pendidikan sangatlah penting guna membawa manusia mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Islam memandang pendidikan sangatlah penting bagi manusia, karena sesungguhnya dengan pendidikan manusia akan mampu menyadari fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Allah. Manusia sebagai orang yang berusaha menyadari fitrahnya dan berusaha untuk mengembangkan potensi dirinya dalam dunia pendidikan dinamakan peserta didik. Dan dalam Islam peserta didik adalah orang yang mulia dihadapan Allah dan mempunyai keutamaan yaitu: terhindar dari kutukan Allah, menempati posisi terbaik, dan dihargai dan disanjung oleh malaikat dan dilindungi dengan sayapnya. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pandangan Islam terhadap pendidikan? 2. Bagaimana pandangan Islam terhadap peserta didik? BAB II PEMBAHASAN A. Pendidikan dalam Persfektif Islam Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Abuddin Nata. MA, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Pendidikan tidak hanya bersifat pelaku pembangunan tetapi sering merupakan perjuangan. Pendidikan berarti memelihara hidup kearah kemajuan, tidak boleh melanjutkan keadaan kemarin menurut alam kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas peradaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kamanusiaan. Pendidikan menurut Islam bersifat normatif dan menjadi bahan kajian dalam filsafat pendidikan Islam. Pendidikan dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan”, yang mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan pada mulanya berasal dari bahasa Yunani yaitu “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam wacana ke-Islaman, pendidikan lebih popular dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhah. Dari masing-masing istilah tersebut memiliki keunikan makna tersendiri ketika sebagian atau semuanya disebut secara bersamaan. Namun, kesemuanya akan memiliki makna yang sama jika disebut salah satunya, sebab salah satu istilah itu sebenarnya mewakili istilah yang lain. Implikasinya, dari berbagai literatur Ilmu Pendidikan Islam, semua istilah itu terkadang digunakan secara bergantian dalam mewakili peristilahan pendidikan islam. Sejak dekade 1970-an, seringa terjadi diskusi berkepanjangan berkenaan dengan wacana apakah Islam memiliki konsep tentang pendidikan ataukah tidak. Sementara para ahli berasumsi, bahwa Islam tidak memiliki konsep, sehingga realisasi dan implementasi sebuah pendidikan selama ini hanya mengadopsi konsep dari pendidikan Barat. Asumsi ini tentunya tidak boleh dengan serta merta disalahkan, kendatipun tidak bisa secara mutlak diterima. Salah satu argumen yang bisa diajukan mereka adalah, karena sampai sekarang peristilahan yang secara baku dan konsisten disepakati semua pihak belumlah ada, kecuali dalam wujud polemik yang tidak berkesudahan. Pada tanggal 31 Maret sampai dengan 8 April 1977, diselenggarakan sebuah konferensi dunia yang pertama tentang Pendidikan Islam di Makkah. Dalam konferensi tersebut membicarakan mengenai penggunaan ketiga istilah (tarbiyah, ta’lim, riyadhah dan ta’dib) untuk pengertian pendidikan dalam persfektif Islam. Adapun penjelasan ketiga istilah tersebut yaitu sebagai berikut: 1. Ta’dib Istilah ta’dib berasal dari akar kata addaba yuaddibu ta’diiban yang mempunyai arti antara lain: membuatkan makanan, melatih akhlak yang baik, sopan santun, dan tata cara pelaksanaan sesuatu yang baik. Kata addaba yang merupakan asal dari kata ta’dib, juga merupakan persamaan kata (muradif) allama yuallimu ta’liman. Muaddib yaitu seseorang yang melaksanakan kerja ta’dib disebut juga muallim, yang merupakan sebutan orang mendidik dan mengajar anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Ta’dib lazimnya diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata karma, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika. Ta’dib yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan peradaban atau kebudayaan, sebaliknya peradaban yang berkualitas dan maju dapat diperoleh melalui pendidikan. Menurut Naquib al-Atas, ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tetap dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptanya, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan dan pengagungan Tuhan. 2. Ta’lim Istilah ta’lim berasal dari kata dasar “aslama” yang berarti mengajar dan menjadikan yakin dan mengetahui. Penggunaannya dalam pengajaran, si pengajar berusaha untuk memindahkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang yang menerima atau belajar dengan jalan membentangkan, memaparkan, dan menjelaskan isi pengetahuan atau ilmu yang diajarkan itu yang dinamakan dengan “pengertian”. 3. Tarbiyah Kata tarbiyah diartikan dengan “proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik, agar ia memiliki semangat dan sikap dalam memahami dan menyadari kehidupannya, sehingga terbentuk ketaqwaan, budi pekerti dan kepribadian yang luhur”. Sebagai proses, tarbiyah menuntut adanya perjenjangan dalam transformasi ilmu pengetahuan, mulai dari pengetahuan yang mendasar menuju pengetahuan yang lebih tinggi dan sulit. Dalam pandangan Islam, pendidikan tentunya sangatlah penting bagi kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat, karena dengan ilmu yang kita dapatkan dari pendidikan tentunya akan membawa kita menjadi orang yang lebih baik. Dengan pendidikan juga akan membentuk kepribadian kita menjadi lebih baik. 4. Riyadhah Riyadhah secara bahasa diartikan dengan pengajaran dan pelatihan. Menurut al-Bastani, riyadhah dalam konteks pendidikan berarti mendidik jiwa anak dengan akhlak yang mulia. Pengertian ini akan berbeda jika riyadhah dinisbatkan kepada disiplin ilmu tasawuf atau olehraga. Riyadhah dalam tasawuf berarti latihan rohani debgan cara menyendiri pada hari-hari tertentu untuk melakukan ibadah dan tafakur mengenai hak dan kewajibannya. Sementara riyadhah dalam dalam disiplin olah raga berarti latihan fisik untuk menyehatkan tubuh. Adapun pengertian pendidikan islam menurut para ahli yang dikemukakan oleh Muhammad SA. Ibrahimi menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan idiologi Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan oleh para ahli serta beberapa pemahaman yang diturunkan dari beberapa istilah dalam pendidikan Islam, seperti tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhah, maka pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: “proses transisternalisasi pengetahuan dan nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan pengasuhan, pengawasan dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. Dengan pendidikan tentunya kita akan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun akhirat. Sehubungan dengan itu, Allah mengajarkan kepada Adam dan semua keturunannya. Dengan ilmu pengetahuan itu, manusia dapat melaksanakan tugasnya dalam kehidupan ini, baik tugas khilafah maupun tugas udaibiyah. Oleh karena itu, Rasulallah menyuruh, menganjurkan dan memotivasi umatnya agar menuntut ilmu pengetahuan. B. Peserta Didik dalam Persfektif Islam Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (UU Sisdiknas, Pasal 1 Ayat 4). Dalam pendidikan Islam, yang menjadi peserta didik itu bukan hanya anak-anak, melainkan juga orang dewasa yang masih berkembang, baik fisik maupun psikisnya. Hal itu sesuai dengan perinsip bahwa pendidikan islam itu berakhir setelah seseorang meninggal dunia. Buktinya, orang yang hampir wafat masih dibimbing mengucapkan kalimat tauhid. Menurut Widodo Supriyono menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan pada dasarnya adalah untuk belajar sepanjang hidupnya, yaitu mempelajari kedudukan dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah yang terbaik, mulia dan multidimensi. Oleh karena itu dalam pandangan Islam, manusia sebagai makhluk Allah dikatakan sebagai peserta didik yang harus terus belajar sepanjang hidupnya. Dalam pandangan Islam, sebenarnya manusia telah ditempatkan sebagai makhluk yang termulia dari semua makhluk, yang ada di jagat raya ini, firman Allah SWT:           Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS. 2:30) Dengan keutamaan yang diberikan Tuhan kepada manusia dari makhluk lain, manusia dibebani dengan tugas yang cukup berat tetapi mulia yaitu menjadi khalifah Allah dimuka bumi. Fungsi khalifah tidak lain adalah merupakan amanah yang mengakibatkan adanya tanggunga jawab. Dengan berpijak pada paradikma “belajar sepanjang masa”, maka istilah yang tepat untuk menyebut individu yang menuntut ilmu adalah peserta didik bukan anak didik. Peserta didik cakupannya lebih luas, yang tidak hanya melibatkan anak-anak, tetapi juga pada orang dewasa. Sementara istilah anak didik hanya dikhususkan bagi individu yang berusia kanak-kanak. Dalam pandangan Islam, peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial dan religious dalam mengarungi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Dalam istilah tasawuf, peserta didik sering kali disebut dengan murid atau thalib. Secara etimologi, murid berarti orang yang menghendaki. Sedangkan menurut arti terminologi, murid adalah pencarian hakikat dibawah bimbingan dan arahan seorang pembimbing spiritual (murrsyid). Sedangkan thalib secara bahasa berarti orang yang mencari, sedang menurut istilah tasawuf adalah penempuh jalan spiritual, dimana ia berusaha keras menempa dirinya untuk mencapai derajat sufi. Penyebutan murid ini juga dipakai untuk menyebut peserta didik pada sekolah tingkat dasar dan menengah sementara untuk perguruan tinggi lazimnya disebut dengan sebutan mahasiswa (thalib). Dalam proses belajar mengajar, pendidik harus memehami beberapa karakteristik peserta didik, adapun karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik antara lain sebagai berikut: 1. Peserta didik bukan miniature orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar mengajar tidak boleh disamakan dengan orang dewasa. 2. Peserta didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk pemenuhan kebutuhan itu semaksimal mungkin. 3. Peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan oleh factor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang meliputi jasmani, inteligensi, sosial, bakat, minat dan lingkungan yang mempengaruinya. 4. Peserta didik dipandang sebagai kesatuan system manusia 5. Peserta didik merupakan subjek dan objek sekaligus dalam pendidikan yang dimungkinkan dapat aktif, kreatif serta produktif 6. Peserta didik mengikuti priode-priode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya. Selain dari ke-enam karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik, dalam buku yang lain juga ditemukan beberapa karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik, yaitu sebagai berikut: 1. Peserta didik memiliki potensi yang lentur 2. Peserta didik memiliki kemuliaan di pandangan Allah SWT 3. Peserta didik memiliki kesamaan derajat 4. Peserta didik terdiri atas jasmani dan rohani 5. Peserta didik memiliki perbedaan warna kulit 6. Peserta didik memiliki perbedaan kecerdasan 7. Peserta didik memiliki perbedaan emosional. Manusia sebagai makhluk Allah dan juga sekaligus sebagai peserta didik yang menuntut ilmu sepanjang hidupnya, dipandangan Allah memiliki keutamaan, karena orang yang menuntut ilmu sangatlah dimuliakan oleh Allah. Adapun keutamaan yang dimiliki peserta didik, antara lain sebagai berikut: 1. Terhindar dari kutukan Allah 2. Menempati posisi terbaik di hadapan Allah SWT 3. Penuntut ilmu akan dihargai dan disanjung oleh malaikat dan dilindungi dengan sayapnya. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Abuddin Nata. MA, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Pendidikan tidaj hanya bersifat pelaku pembangunan tetapi sering merupakan perjuangan. Pendidikan berarti memelihara hidup kearah kemajuan, tidak boleh melanjutkan keadaan kemarin menurut alam kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas peradaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kamanusiaan. Pendidikan menurut Islam bersifat normatif dan menjadi bahan kajian dalam filsafat pendidikan Islam Dalam wacana ke-Islaman, pendidikan lebih populer dengan istilah tarbiyah, ta’lim, ta’dib, riyadloh, irsyad, dan tadris. Dari masing-masing istilah tersebut memiliki keunikan makna tersendiri ketika sebagian atau semuanya disebut secara bersamaan. Namun, kesemuanya akan memiliki makna yang sama jika disebut salah satunya, sebab salah satu istilah itu sebenarnya mewakili istilah yang lain. Implikasinya, dari berbagai literatur Ilmu Pendidikan Islam, semua istilah itu terkadang digunakan secara bergantian dalam mewakili peristilahan pendidikan islam. Pendidikan sangatlah penting bagi manusia, karena dengan pendidikan tentunya akan membawa kehidupan manusia menjadi lebih baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Manusia diperintahkan oleh Allah untuk menuntut ilmu sepanjang hidupnya agar manusia memahami fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Allah Dalam pendidikan, pastinya ada subjek dan objek pendidikan dan yang menjadi subjek dan objek pendidikan itu sendiri adalah manusia. Manusia yang menuntut ilmu dinamakan sebagai peserta didik bukan anak didik, karena peserta didik maknanya lebih luas dibandingkan dengan anak didik. Dan peserta didik itu adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu B. Saran Kita sebagai manusia yang sedang menuntut ilmu dan sekaligus menjadi calon orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan tentunya haruslah lebih memahami makna pendidikan dan peserta didik itu sendiri, supaya kita menjadi orang yang betul-betul memahami fitrah kita sendiri. DAFTAR PUSTAKA Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Nata, Abuddin, H. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: Percetakan Angkasa. Nafis, Muhammad, Muntahibun. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras Thoib, Ismail. 2012. Filsafat Pendidikan Islam Membangun Insan Muslim Berkarakter. IAIN Mataram: Lembaga Pengkajian Publikasi Islam dan Masyarakat. Umar, Bukhari. 2012. Hadis Tarbawi: Pendidikan dalam Perspektif Hadis. Jakarta: Amzah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Keajaiban Email

Ketik Email_nya Sob,,,!!! :

Delivered by Zhoule Torjonk

Blogger news

Blogroll