PENDIDIKAN
ISLAM DAN KEBUDAYAAN
I.
Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk termulia dari
segenap makhluk dan wujud lain yang ada di alam jagad ini (Al-Syaibany, 1979:
103). Dengan kata lain, manusia adalah puncak ciptaan Allah. Manusia ialah
makhluk (ciptaan) Allah, bukan tercipta atau ada dengan sendirinya. Ini masalah
keyakinan, dan al-Qur’an berulang-ulang meyakinkannya kepada manusia sampai
pada tingkat menantangnya agar mencari bukti-bukti, baik pada alam raya maupun
pada dirinya sendiri (Aly, 1999:58).
Dilihat dari strukturnya, manusia
tersusun dari dua unsur yakni, pertama, memiliki
beberapa kesamaan dengan makhluk lain. Kedua,
memiliki kekhasan yang menunjukkan ketinggian martabat manusia disbanding
dengan makhluk yang lain. Unsur pertama dari susunan kodrat itu dinamakan raga
atau tubuh, sedang unsur kedua dinamakan jiwa atau roh (Soebahar, 2000:149).
Kedua unsur itu, manusia dianugerahi
nilai lebih, hingga kualitasnya berada di atas kemampuan yang dimiliki
makhluk-makhluk lain. Dengan bekal yang istimewa ini manusia mampu menopang
keselamatan, keamanan, kesejahteraan, dan kualitas hidupnya (Jalaludin, 2001:13).
Sebaliknya dapat mencapai kehinaan bila kualitas insannya tidak dikembangkan
secara positif. Sebab pada pribadi manusia bersanding kecenderungan pada
kebajikan dan kefasikan (QS. Al-Syamsy: 8-10).
Walaupun pada manusia bersanding
kefasikan dan ketaqwaannya sekaligus, namun pada hakikatnya potensi positif
manusia lebih kuat dari potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan
lebih kuat dari daya tarik kebajikan (Shihab, 2000: 286). Oleh karena itu
manusia dapat berubah secara dinamis dari buruk menjadi baik dan sebaliknya
dari baik menjadi buruk (Bastaman, 1995: 126). Artinya bahwa kepribadian
manusia tidak pernah stabil secara sempurna, ia selalu dalam dinamika
kehidupannya, ia selalu berhadapan dengan lingkungan yang ikut mewarnai
dinamika dan persoalan kemanusiaan.
Karenanya di sini manusia memerlukan
pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Perbincangan tentang pendidikan tidak
akan pernah mengalami titik final. Karena pendidikan merupakan permasalahan
besar kemanusiaan yang senantiasa aktual dibicarakan pada setiap ruang dan
waktu yang tidak sama dan bahkan berbeda sama sekali (Zamroni, 2004: 2). Karenanya,
pendidikan harus senantiasa dengan perubahan yang terjadi. Hal ini sesuai
dengan salah satu prinsip dalam Pendidikan Islam, yakni prinsip perubahan yang
diinginkan (Al-Syaibany, 1979: 441).
Diantara
perubahan yang dapat dirasakan adalah dalam kebudayaan. Kebudayaan yang dapat
diartikan adalah pola kelakuan yang secara umum terdapat dalam suatu masyarakat
(Nasution, 1995: 63), dalam era globalisasi ini, terjadi pertukaran kebudayaan
dari satu negara ke negara lain. Akibat pertukaran kebudayaan mengakibatkan
dampak positif dan negatif.
Dalam
makalah ini, penulis akan menguraikan tiga hal, yakni pertama, pengertian
pendidikan Islam dan kebudayaan. Kedua, globalisasi dan kebudayaan. Ketiga, bagaimana
membangun budaya Islami di sekolah.
II. Pengertian
Pendidikan Islam dan Kebudayaan
Sebelum
membahas lebih lanjut, alangkah baiknya membahas tentang pengertian pendidikan
Islam dan Kebudayaan.
A.
Pengertian Pendidikan Islam
Ada
banyak pengertian tentang pendidikan Islam. Diantaranya:
1. Ahmad
D. Marimba memberikan definisi Pendidikan Islam adalah bimbingan atau
pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada si terdidik dalam
perkembangan jasmaniah dan rohaniah kearah kedewasaan dan seterusnya ke arah
terbentuknya kepribadian muslim.( Marimba, 1986: 41)
2.
Syahminan Zaini berpendapat Pendidikan
Islam adalah usaha mengembangkan fitrah manusia dengan ajaran agama Islam, agar
terwujud atau tercapai kehidupan manusia yang makmur dan bahagia. (Zaini,
1986:4)
3.
HM. Chabib Thoha menyebutkan Pendidikan
Islam adalah pendidikan yang falsafah, dasar dan tujuan serta teori-teori yang
dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan didasarkan nilai-nilai dasar
Islam yang terkandung dalam AI-Qur’an, maupun hadist Nabi. (Thoha, 1995: 99)
4. Ali
Ashraf berpendapat Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih stabilitas
murid sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan,
langkah-langkah dan keputusan begitu pula pendekatan mereka terhadap sesama
ilmu pengetahuan mereka, diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam
dirasakan (Ashraf, 1984: 23)
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa
pengertian pendidikan Islam adalah suatu aktifitas atau usaha pendidikan berupa
bimbingan dan pengembangan fitrah manusia baik jasmani maupun rohani
berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian muslim muttaqin
yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat.
Sedangkan tujuan pendidikan di bahwa menurut Hasan
Langgulung (1986: 33) menyatakan bahwa berbicara tentang tujuan pendidikan tak
dapat tidak mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup. Sebab pendidikan
bertujuan memelihara kehidupan manusia. Sementara Al-Syaibani (1979: 399)
menyebutkan tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan setelah subyek
didik mengalami perubahan proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu
dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang
sadar dan bertujuan dan Allah meletakkan azas-azasnya bagi seluruh manusia di
dalam syari’at ini. Oleh sebab itu, sudah semestinya mengkaji pendidikan terlebih
dahulu menjelaskan tujuannya yang luhur dan luas, yang telah ditetapkan oleh
Allah bagi seluruh aktititas manusia. karena tujuan merupakan kompas, barometer
sekaligus evaluator dalam penyelenggaraan sutau pendidikan.
Sebagai karakteristik pendidikan yang
bercorak Islam, maka sudah barang tentu dalam perumusan tujuan pendidikannya
mengacu dan berpihak pada hukum-hukum ajaran Islam. Adapun tujuan pendidikan
Islam dapat dilihat sebagai berikut:
Para
ahli pendidikan memberikan pendapat tentang tujuan pendidikan Islam,
diantaranya:
1.
Al-Abrasy (1980:10) mengatakan bahwa tujuan
utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang utama atau pembentukan
moral yang tinggi.
2.
Zaini (1986: 34-35) mengatakan tujuan utama pendidikan Islam
adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat atau sehat dan terampil, berotak
cerdas dan berilmu banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat
kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan pendirian yang teguh.
3.
Chabib Thoha (1995: 101-102) mengatakan
tujuan pendidikan Islam adalah:
a.
Menumbuhkan dan mengembangkan ketaqwaan
kepada Allah SWT
b.
Membina dan memupuk akhlakul karimah
c.
Menumbuhkan sikap dan jiwa yang selalu
beribadah kepada Allah
d.
Menciptakan pemimpin-peminipin bangsa
yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar
e.
Menumbuhkan kesadaran ilmiah, melalui
kegiatan penelitian, baik terhadap kehidupan manusia, alam maupun kehidupan
makhluk Allah semesta.
4.
Marimba (1986: 49) dengan tegas
mengatakan tujuan akhir pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian
muslim.
5.
Daradjat (1996: 31), mengemukakan bahwa
Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu
hidup di dunia telah berakhir pula. Mati dalam keadaan berserah di kepada Allah
sebagai muslim yang merupakan ujung taqwa, sebagai akhir dari proses hidup
jelas berisi kegiatan pendidikan. lnilah akhir dari proses pendidikan itu yang
dapat dianggap sebagai tujuan akhir hidupnya.
Dengan demikian berdasarkan rumusan
tentang tujuan pendidikan Islam di atas maka dapat diformulasikan bahwa tujuan
pendidikan Islam adalab terbentuknya kepribadian muslim yang mempunyai otak
cerdas, berilmu banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat
kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan pendirian yang teguh Sehingga dapat
menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar.
Sementara itu, dasar pendidikan Islam
adalah al-Qur’an dan as-Sunah. Serta apa yang ada diatasnya dari pada
puncak-puncak cabang yang lain. Seperti qiyas, Ijma’, dan sumber-sumber
perundangan bimbingan dan syariat lsIam.(Al-Syaibani, 1979: 427)
1.
Al Quran
Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam yang
pertama adalah Al Qur’an. Al Qur’an ialah Firman Allah berupa wahyu yang
disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhaniad. Didalamnya terkandung ajaran
pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan dengan
melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an terdiri dua
prinsip besar yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan dan amal. Setiap
muslim percaya bahwa al Qur’an adalah sumber nilai dan ajaran Islam yang paling
utama. (Al-Ghazali, 1985:VI).
Al Qur’an itu sendiri diturunkan kepada
manusia untuk memberikan petunjuk jalan hidup yang lurus dalam arti memberikan
bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah. (Zuhairini, 1994:154) Pendidikan
yang terkandung dalam al Qur’an adalah Pendidikan yang menyeluruh yaitu
meliputi segala aspek manusia dan bergerak dalam bidang kehidupan. Pendidikan
itulah yang mementingkan pembinaan pribadi dari segala segi dan menekankan
perubahan dalam diri manusia (antara jasmani, akal dan perasaan). Dan
pendidikan Islam harus berlandaskan ayat-ayat al Qur’an sebagai sumber utama
dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam. (Hidayatullah, 2000:
xviii)
2.
As Sunah (Sunnah Rasul)
Sunnah rasul
yang sering disebut hadis ialah ucapan, perbuatan atau takrir nabi yang
mengandung ajaran-ajaran Islam. Sedangkan yang dimaksud takrir adalah
penetapan Nabi SAW. Secara diam-diam terhadap ucapan atau perbuatan para
sahabatnya.
Pada mulanya as-Sunah dimaksudkan untuk
mewujudkan dua tujuan; Pertama, menjelaskan kandungan aI-Qur’an. Kedua,
menerangkan syariat dan adab-adab lain. (An-Nahlawi, 1989: 46) Terhadap
pendidikan sendiri as-Sunah bertindak sebagaimana al Qur’an dalam mendidik,
mensucikan jiwanya, meluruskan pribadi dan membimbing kearah yang lurus.
(Al-Syaibani, 1979: 431)
Masih menurut Al-Syaibani, cara Sunah
dalam mendidik melalui dua jalan; pertama, bersifat positif, berpusat pada
dasar-dasar yang sesuai dan kuat bagi akhlak yang mulia yang bertujuan
menanamkan kemuliaan. Kedua, bersifat penjagaan, menghindarkan dari segala
macam keburukan, baik bersifat individual atau sosial, dan menjaga dari bahaya
perpecahan dan perbedaan.
Yang terpenting dalam Sunah ini, bahwa
mencerminkan segala tingkah laku Nabi SAW. yang patut diketahui oleh setiap
muslim. Dengan kata lain sebagal model bagi setiap muslim. Sebab berkaitan
dengan keimanan maka manusia berusaha untuk mengikuti jejak Rosulullah sangat
besar pengaruhnya terhadap pembentukan watak setiap muslim. (Langgulung, 1995: 38)
Jadi dasar pendidikan Islam adalah
wawasan tajam terhadap sistem hidup Islam yang sesuai dengan kedua sumber pokok
(al-Qur’an dan as Sunah). Nilai-nilai fundamental dalam sumber pokok
ajaran Islam yang harus dijadikan dasar pendidikan Islam yaitu aqidah Akhlak,
penghargaan terhadap akal, kemanusiaan, keseimbangan, rahmat bagi seluruh alam.
B.
Pengertian Kebudayaan
Istilah
kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:215) diartikan hasil
kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan,
kesenian, adat istiadat. Sedangkan dalam Kamus Oxford Learners Pocket
Dictionary (2003:105), istilah kebudayaan disebut dengan culture diartikan
dengan customs, beliefs, art, way of life, etc of a particular country or
group.
Sementara para ahli memberikan memberi definisi
sebagai berikut:
1.
Kebudayaan menurut Marimba (1986: 124),
segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
2.
Kebudayaan adalah pola kelakuan yang
secara umum terdapat dalam suatu masyarakat. (Nasution, 1995: 63) kebudayaan
meliputi keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, ketrampilan, kesenian, moral, hukum,
adat istiadat, dan kebiasaan manusia.
Dari pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang
diciptakan oleh manusia (akal budi) seperti kepercayaan, kesenian, adat
istiadat. pandangan hidup, pola perilaku yang secara umum yang terdapat dalam suatu masyarakat. Melihat dari
pengertian kebudayaan masih bersifat umum, atau kalau disederhanakan dapat
dikatakan kebudayaan merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh manusia.
Sedangkan unsur-unsur
dalam kebudayaan menurut Kluchohn menyebutkan ada tujuh unsur, yakni:
1. Sistem
kepercayaan/ religi
Ada kalanya pengetahuan,
pemahaman, dan daya tahan fisik manusia
dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam
sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya
ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya.
Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat,
manusia tidak dapat dilepaskan dari religi
atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
2. Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting
dalam struktur sosial. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri
dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.
Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh
masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi
sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk
yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial
untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
3. Sistem mata pencaharian hidup
Mata pencaharian hidup adalah suatu usaha atau kerja
ekonomi yang bertujuan untuk memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari atau untuk
memperoleh bahan kehidupan untuk jangka waktu tertentu. sistem mata pencaharian
pada masyarakat pedesaan masih bersifat tradisional, seperti: berburu
dan meramu, beternak,
bercocok tanam di ladang, menangkap ikan. Sedangkan sistem
masyarakat perkotaan sangat beragam, sesuai dengan perkembangan kota yang sangat kompleks
dalam segala bidang.
4. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi
menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala
peralatan dan perlengkapan hidup. Pada dasarnya, semua peralatan yang
dihasilkan oleh manusia bertujuan untuk membantu mempermudah hidup manusia itu
sendiri. Sistem peralatan dan perlengkapan hidup antara lain: alat-alat
produktif, senjata,
alat-alat rumah tangga, alat-alat elektronik, makanan
dan minuman, pakaian,
perumahan dan alat-alat transportasi
5. Bahasa
Bahasa
adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi
atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat),
dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau
orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat
istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan
dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi
fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat
untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi
dan adaptasi
sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan
dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari
naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan
dan teknologi.
6.Sistem pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia
tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan
dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui
pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau
percobaan-percobaan yang bersifat empiris.
Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:
pengetahuan tentang alam,
pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya,
pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama
manusia, pengetahuan tentang ruang
dan waktu.
7. Kesenian
Kesenian merupakan ketrampilan untuk mengekspresikan atau
mengkomunikasikan perasaan atau nilai-nilai keindahan. Di dalam kesenian
salah satu unsur yang sangat penting adalah unsur estetika (rasa
keindahan).Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia
menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga
perwujudan kesenian yang kompleks.Rasa seni terdapat pula pada semua manusia
untuk memenuhi kebutuha jiwanya. Di dalam seni inilah si pencipta ingin
menyampaikan rasa indahnya kepada orang lain.
III.
Globalisasi dan Kebudayaan
Pada dasarnya masa globalisasi (disukai atau tidak),
hal itu akan tetap terjadi, karena hal itulah mau tidak mau orang harus
mempersiapkan diri untuk menghadapinya. (Mansur, 2005: 157) Globalisasi membuat
dunia menjadi sebuah kampong kecil yang memudahkan setiap warga dunia untuk
berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Situasi yang demikian
mengakibatkan terbukanya ide dari satu tempat ke tempat lain sehingga sulit
disensor jika bertentangan dengan nilai-nilai budaya penerima ide tersebut.
(Batubara, 2004: 111)
Implikasi dari globalisasi menjalar keberbagai
sektor yang ada termasuk adalah kebudayaan. Dampak yang bisa dirasakan adalah
adanya pertukaran kebudayaan antarnegara. Contoh, dalam berpakaian, dahulu
orang Indonesia
bagi wanita memakai pakaian bawahan kebaya. Sekarang, hal tersebut digeser
dengan pakaian jeans.
Apabila dilihat secara mendalam, ternyata Indonesia merupakan
salah satu Negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini bisa dilihat jumlah
pulau di Indonesia
adalah 13.000 pulau. Populasi penduduknya lebih dari 200 juta jiwa, terdiri
dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu
mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam, Katolik,
Kristen, Hindu, Budha Konghucu serta berbagai aliran kepercayaan (Yaqin, 2007:
3)
Pendidikan multikultural mempersiapkan siswa untuk
aktif sebagai warga Negara dalam masyarakat secara etnik cultural, dan agama
beragam. Dalam pendidikan cultural, semua pengalaman dan sejarah
kelompok-kelompok cultural dihargai dan diajarkan dalam sekolah, yang
menguatkan integritas dan pentingnya kelompok-kelompok tersebut dan
kelompok-kelompok siswa yag mengidentifikasi dengan kelompok yang lebih besar.
((Baidhawi, 2005: 10)
Kebudayaan yang ada di Indonesia, sangat mungkin
mendapatkan masukan dari kebudayaan dari luar. Dalam penggunaan bahasa
misalnya, banyak masyarakat umum, dalam berbagai kesempatan menggunakan bahasa
asing. Di dalam akulturasi kebudayaan tidak semua unsur kebudayaan asing
diterima, tetapi dilakukan seleksi unsur-unsur mana yang pantas diterima dan
elemen mana yang harus ditolak, hal mana diselaraskan dengan sikap jiwa dan
mental bangsa. (Ahmadi, 2004: 73)
Penetrasi budaya global terhadap kehidupan
masyarakat akan direspon berbeda-beda oleh kalangan pendidikan, yakni pertama,
cenderung menerima, begitu saja pola dan model budaya global yang dialirkan
melalui teknologi informasi, tanpa memahami nilai dan substansinya. Kedua,
apriori, terhadap capaian budaya dan peradaban global, semata-mata karena ia
tidak datang dari tradisi yang diikutinya selama ini. Sedangkan kelompok
ketiga, berusaha mendialogkan antara budaya global dengan budaya local sehingga
terjadi sintesis budaya yang dinamis dan harmonis. (Rahim, 2002: 421)
IV. Kesimpulan
1.
Yang dimaksud dengan pendidikan Islam
adalah suatu aktifitas atau usaha pendidikan berupa bimbingan dan pengembangan
fitrah manusia baik jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju
terbentuknya kepribadian muslim muttaqin yang bahagia baik di dunia maupun di
akhirat. Sedangkan kebudayaan adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh
manusia (akal budi) seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat. pandangan
hidup, pola perilaku yang secara umum yang
terdapat dalam suatu masyarakat.
2.
Dalam era globalisasi sekarang ini semua
aspek kehidupan manusia berpengaruh, termasuk di dalamnya bidang kebudayaan. Contoh
konkrit adalah adanya pertukaran kebudayaan antarnegara.
3.
Cara membentengi dampak negatif
globalisasi bidang kebudayaan, SMP Negeri 7 Semarang melakukan berbagai cara,
yakni: mengatur pakaian, salat jamaah, salat sunah dhuha, membaca al-Quran, dilarang
membawa HP, membiasakan sikap jujur, dan mengucapkan salam, bersalaman kepada
guru
Daftar
Pustaka
Ahmadi,
Abu, 2004, Sosiologi Pendidikan, Jakarta:
Rineka Cipta.
Aly, Hery Noer, 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Logos
Al-Abrasyi,
M Atiyah, 1980, Al-tarbiyah Al-Islamiyah, terjemahan Prof Bustami A. Ghani
dan Djohar Bahry LIS., Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan
Bintang, Jakarta
Al Ghazali, 1985 Permata Al Qur ‘an, CV Rajawali Jakarta
Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy, 1979,
Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta:
Bulan Bintang.
An-Nahlawi,
Abdurrahman , 1989, Usul aI-Islamiyyah Wa Asaibuha, terjemahan Drs. Hery
Noer Ali, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, CV. Diponegoro,
Bandung
Asraf, Ali, 1984, Horizon-horizon
baru Pendidikan Islam, Pustaka Firdaus: Jakarta
Baidhawi, Zakiyuddin, 2005, Pendidikan
Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta:
Erlangga.
Bastaman, Hanna Djumhana, 1995, Integrasi Psikologi dengan Islam: Menuju
Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Batubara,
Muhyi, 2004, Sosiologi Pendidikan, Jakarta:
Ciputat Press
Daradjat, Zakiah, dkk, 1996, Ilmu
Pendidikan Islam, Bumi Aksara bekerjasama dengan Binbaga Depag RI Jakarta. 1996
Hidayatullah, Syarif, 2000, Intelektualisme
dalam Perspektif Neo-Modernisme PT. Tiara Wacana, Yogyakarta
Jalaludin,
2001, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Mansur, 2005, Paradigma Pendidikan
Islam dalam Mewujudkan Masyarakat Madani di Era Globalisasi, Semarang: International
Journal Ihya ‘Ulum al-Din.
Marimba,
D Ahmad, 1986, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif
Langgulung, Hasan, 1986, Manusia dan
Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Filsafat Pendidikan, Pustaka
Al-Husna, Jakarta
Langgulung,
Hasan, 1995, Beberapa Permikiran Tentang Pendidikan Islam PT. Al
Ma’arif, Bandung
Nasution,
S, 1995, Sosiologi Pendidikan, Jakarta:
Bumi Aksara.
Oxford
Learners Pocket Dictionary, 2003, UK:
Oxford University Press
Prihantoro,
Nur Achmad, (http://www.gagasmedia.com/serba-serbi/penulis/memahami-arti-kebudayaan.html)
diakses tanggal 17 Maret 2011
Rahim, Husni, 2002, Pendidikan Islam
di Indonesia Keluar dari
Eksklusivisme dalam Pendidikan untuk Masyarakat Indonesi Baru, Jakarta: Grasindo
Shihab,
Quraisy, 2000, Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizan
Soebahar,
Moh. Erfan, 2000, Manusia Seutuhnya, CV.
Semarang: Bima Sejati, 2000
Thoha, M. Chabib, 1995, Kapita
Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, 2008, Kamus Besar
Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa, Jakarta:
Pusat Bahasa.
Zamroni,
2000, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta:
BIGRAF Publishing
Yaqin, M. Ainul, 2007, Pendidikan
Multikultural: Crosscultural Understanding untuk Demokrasi dan keadilan, Yogyakarta: Pilar Media.
Zaini, Syahminan. 1986,
Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia
Zuhairini, dkk. , 1994,
Filsafat Pendidikan Islam., Bumi Aksara. Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar