Pencet Donk Gan...!!!
Perkembangan Jiwa Beragama Pada Masa Dewasa Awal & Median
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,atas rahmat dan hidayahNya-lah kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan semaksimal kami. Tidak lupa sholawat dan salam kami hanturkan ke atas junjungan Nabi besar kita,Muhammad saw,yang telah menjadi sumber inspirasi utama bagi kami dalam proses penyusunan makalah ini.Di samping itu kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan dan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini.
Pembuatan makalah kami ini berjudul “Perkembangan Jiwa Keagamaan pada Masa dewasa\Usia Lanjut ”.Makalah ini merupakan tugas wajib yang harus kami penuhi dalam mata perkuliahan sajarah peradaban Islam yang berbobot 2SKS, yang dimana materi dari makalah ini juga merupakan bagian dari judul materi pada pembelajaran mata kuliah tersebut.
Adapun kami hanyalah manusia biasa yang tidak mampu sempurna sama halnya dengan makalah yang kami buat ini,untuk itu masukan yang membangun sangat di butuhkan dalam proses pembuatan makalah ke depannya,dan kami juga berharap agar makalah yang terlampau sederhana ini mampu memberikan kita manfaat baik itu dari segi ilmu dan pengetahuan.
PERKEMBANGAN JIWA BERAGAMA PADA MASA DEWASA AWAL DAN MEDIAN
Sikap Keberagamaan Pada Orag Dewasa
Para ahli psikologi perkembangan membagi perkembangan manusia berdasarkan usia menjadi beberapa tahap atau priode perkembangan;
Masa parenatal
Masa bayi
Masa kanak-kanak
Masa perapubertas
Masa pubertas (remaja)
Masa dewasa
Masa usia lanjut
Awal pesan keagamaan yang di sampaikan kepada mereka adalah bahwa tuhan mencintai mereka. Ketika mereka mengakui kebenaran pernyataan ini peroses perpindahan kepada sikap keagamaan pun dimulai, dan kemudian dia mengajak meraka untuk menghilangkan sikap-sikap sebelumnya yang cendrung pada bermusuhan dan menghentikan pada permusuhan dan menghentikan kebiasaan mereka minum-minuman keras. Kebutuhan untuk mencintai dan di cintai timbul sebagai unsur emosional dalam naluri seksual. Peranan kedua kebutuhan tersebut dalam kehidupan keagamaan bisa dinyatakan dengan pernyataan bahwa kebutuhan-kebutuhan seksual, sebagaimana kebutuhan-kebutuhan naluriah untuk mempertahan diri, bisa dikatan sebagai bagian dari landasan sikap keagamaan.
Menurut J.P Guilford macam-macam kebutuhan :
Kebutuhan individual
Homeostatis kebutuhan yang di tuntut tubuh dalam proses penyesuain diri dengan lingkungan.
Regulasi temperatur penyesuain tubuh dalam usaha mengatasi kebutuhan akan perubahan temperatur badan.
Tidur kebutuhan manusia yang perlu di penuhi agar terhindar dari gejala halusinasi.
Lapar kebutuhan biologis yang harus di penuhi untuk membangkitkan energy tubuh sebagai organis.
Seks kebutuhan yang timbul sebagai dorongan mempertahankan jenis.
Kebutuhan social
Pujian dan binaan
Kekuasaan dan mengalah
Pergaulan
Imitasi dan simpati
Perhatian
Kebutuhan manusia akan agama
Manusia dikatakan sebagai mahkluk yang beragama (homo religious).
Ahmad yamani mengemukakan bahwa tatkala Allah membekali insan itu dengan nikmat berfikir dan daya penelitian, dibekali pula rasa bingungdan bimbang untuk memahami dan belajar mengenal alam sekitarnya sebagai imbangan atasa rasa takut kegarangan dan kebengisan alam tersebut.
Dalam ajaran islam, bahwa adanya kebutuhan akan agama disebabkan manusia selaku makhluk tuhan dibekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang dibawa sejak lahir. Salah satu fitrah tersebut adalah kecendrungan terhadap agama.
Charlotte buhcler melukiskan 3 masa perkembangan pada masa dewasa:
Prioede pra pubertas “presaan saya tidak enak tapi saya tidak tahu apa sebabnya “
Priode pubertas “di ibaratkan saya ingin sesuatu tapi saya tidak tahu yang saya inginkan apa”
Priode adolesen “saya hidup dan saya tahu untuk apa”.
Kata-kata Charlotte Buchler tersebut mengungkapkan betapa masih labilnya kehidupan jiwa anak-anak ketika mengijak usia menjelang remaja dan di usia remaja mereka,. Sebaliknya setelah menginjak usia dewasa mereka terlihat adanya kemantapan jiwa mereka “saya hidup dan saya tahu untuk apa”.
Hal ini menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup dengan kata lain orang dewasa sudah memiliki identitas yang jelas dan keperibadian yang mantap.
Di usia dewasa orang sudah memiliki sipat keperibadian yang stabil stabilisasi sifat ini dapat terlihat dari cara bertindak dan brtingkah laku yang bersifat tetap dan tidak berubah-ubah dan selalu berulang kembali.
Kemantapan jiwa seorang dewasa ini setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagamaan pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang di pilihnya baik yang bersumber dari ajaran agama maupun dari norma-norma yang lain dalam kehidupan.
Pemilihan nilai-nilai tersebut di dasarkan pada pemikiran yang matang, Jadi sikap keberagamaan seseorang di usia dewasa ini sulit di ubah jikapun terjadi perubahan mungkin proses itu terjadi setelah di dasaran atas pertimbangan yang matang.
Sebaliknya ,jika seorang dewasa memilih nilai yang bersumber dari nilai-nilai non agama.
Itupun akan di pertahannkan sebagai pandangan hidupnya.maka sikap keberagamaan ini akan di pertahankannya sebaagai identitas. daan keperibadian mereka sikap ini akan membawa mereka secara mantap menjalankan ajaran agama yang mereka anut.
Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup dan bukan sekedar ikut-ikutan.
Ciri ciri sikap keberagamaan orang dewasa :
Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan , pemikiran yang matang bukan sekedar ikut-ikutan.
Cendrung bersifat realis sehingga norma-norma agama agama banyak di aplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
Besikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untu mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain di dasarkan atas pertimbangan pikiran juga atas pertimbangan hati nurani.
Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan social, sehin gga perhatian terhadap kepentingan organisasi social keagamaan sudah berkembang.
1. Sejak mencapai usia dewasa hingga ke usia sekitar 50 tahun, perkembangan fisik manusia boleh dikatakan tidak mengalami perubahan yang banyak. Barulah di atas usia 50 tahun mulai terjadi penurunan perkembangan yang drastis hingga mencapai usia lanjut. Oleh karena itu, umumya garis perkembangan pada priode ini di gambarkan oleh garis menurun, priode ini disebut sebagai priode regresi (penurunan). Sejalan dengan penurunan tersebut, maka secara pisikis terjadi berbagai perubahan-perubahan gejala pisikis ini ikut mempengaruhi berbagai aspek kejiwaan yang terlihat dari tingkahlaku yang di perlihatkan.
Rita Atkinson membagagi tingkat perkembangan menjadi 8 tahap:
Tahun-tahun pertama
Tahun kedua
Tahun ketiga tahun-tahun keempat
Tahun keenam hingga pubertas
Adolesen
Kedewasan awal
Kedewasaan menengah dan
Tahun-tahun terakhir (usia lanjut).
Akhir remaja di tandai dengan masa adolesen, namun demikian ada juga yang memasukan masa adolesen ini kepada masa remaja.
Pada masa adolesen, seorang mulai menginjak dewasa dan memiliki yang sikap yang pada umumnya sebagai berikut :
Menemukan peribadinnya
Menemukan peribadinya
Menggariskan jalan hidupnya
Bertanggung jawab
Meenghimpun norma-norma sendiri
Sikap di atas mengawali sikap dewasa. dan selanjutnya pada masa sewasa seorang telah menujukkan kematangan jasmani dan rohaninya. Sudah memiliki keyakiniandan pendirian yang tetap serta perasaan social sudah berkembang.
Tingkah laku keberagamaan seseorang pada masa ini berdasarkan tanggung jawab keagamaan yang ia pegangi, ia yakin secara mendalam dan ia pahami sebagai jalan hidup. Hal itu sebagai akibat dari adanya kesetabilan dalam pandangan hidup keagamaaan.
Dengan demikian orang dewasa sebenarnya mempunyai tanggung jawab yang besar mengenai apa yang harus di anut dan apa yang di kerjakannya.
Tanggung jawab itu bisa meliputi :
Bertanggung jawab secara individu artinya berani berani menanggung resiko sebagai tanggung jawab perbuatannya.
Tanggung jawab secara social berarti semua perbuatan di piirkan dan di perhitungkan akibat-akibatnya atau untung ruginya terhadap orang lain dan terhadap masyarakat .
Bertnggung jawab secara susila perbuatan yang tidak bertentangan dengan etika
Dan semua perbuatan dan tingkah laku keagamaannya maupun aktivitas kehidupan lainnya hanya di tuntut bertanggung jawab kepada tuhan yang di imaninya atau di percayanya.
Tingah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif (pandangan) yang luar di rasakan atas nilai yang di pilihnya.
Selain itu tingkah laku pada umunya juga di landasi oleh pendalaman pengertian dan kekuasaan pemahaman tentang ajaran agama yang di anutnya, beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar imitatif.
William James menyatakan bahwa umur keagamaan yang luar biasa tampaknya terdapat pada usia tua, ketika gejolak kehidupan seksual sudah berakhir.
Pada usia tua merupakan kurun waktu maksimum bagi perkembangan sikap keagamaan dibenarkan oleh kajian empiric baru-baru ini mengenai hubungan antara umur dan sikap positif terhadap agama. Argyle mengutip sejumlah penelitian kuatitatif mengenai masalah ini, termasuk penelitian yang di lakukan oleh Cavan, yang mempelajari 1.200 orang yang berumur antara 60 sampai 100 tahun. Penelitian ini menunjukkan secara jelas kecendrungan untuk menerima pendapat keagmaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini, sedangkan pengkuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat baru muncul sampai 100% setelah umur 90 tahun…
DAFTAR PUSTAKA
Jalaludin.2007. Psikologi Agama Memahami Prilaku Keagamaan dan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Ramayulis .2002.Psikologi Agama.Jakarta: Kalam Mulia.
Syamsul Arifin,Bambang.2008.Psikologi Agama.Pustaka Setia Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar