SUPERVISI
A. Pengertian supervisi pendidikan
Supervisi mempunyai dua konsep, yang pertama adalah konsep lama yang mengatakan bahwa Supervisi adalah Inspeksi/pengawasan yang mempunyai tugas untuk mencari-cari kesalahan untuk bisa diperbaiki. Sementara konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut : “Supervision is assistance in the depolepment of a be teaching learning situation”. Supervise adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta,2008,hal,18).
Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan superrvisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an enviroum). Dengan demikian supervise pendidikan tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.
B. Jenis kegiatan dan Tujuan supervisi
Secara singkat evaluasi program merupakan upaya untuk mengukur ketercapaian program / kegiatan, yaitu mengukur sejauh mana sebuah kebijakan dapat terimplementasikan. Jenis kegiatannya berupa seperti : kegiatan membaca, program seminar, program UKS.
Menurut Olive (1984) Tujuan supervisi pendidikan yang dominan ialah:
1. Mengembangkan kurikulum yang sedang di laksanakan di sekolah.
2. Meningkatakan proses belajar mengajar di sekolah.
3. Mengembangkan seluruh staff di sekolah.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta, 2008, hal,19).
C. Peranan supervisi pendidikan
Mengenai peranan supervise yang dikemukakan oleh Peter . F. Olivia, 1976 bahwa peranan supervisor ialah:
1. Supervisor Sebagai Koordinator.
Maksud dari sebagai supervisor sebagai koordinator yaitu ia dapat mengkoordinasikan program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru, cnth : kongkrit mengkordinasi tugas mengajar satu mata pelajaran yang dibina oleh berbagbai guru.
2. Supervisor Sebagai konsultan.
Supervisor ketika menjadi konsultan maka ia dapat memberi bantuan, bersama meng-kolsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok.
3. Supervisor Sebagai leader.
Ketika supervisor menjadi seorang pemimpin maka ia dapat harus dapat memimpin sejumlah staf guru dalam pengembangan potensi kelompok. Pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan professional guru-guru secara kurukulum. Ia juga dapat mengembangkan keterampilan dan kiat-kiat dalam working for the group, working with the group dan Working for the Group.
Supaya roda kepemimpinan itu berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka untuk menjadi seorang pemimpin, supervisor mempunyai syarat-syarat yang harus ada dalam diri pemimpin itu sendiri, adapun syarat-syarat supervisor itu adalah :
a. Mempunyai perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat menilai orang secara teliti serta dapat bergaul dengan baik.
b. Dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh-sungguh semua kepercayaan yang diberikan oleh orang yang berhubungan dengannya.
c. Berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengharapkan yang baik, dan melihat segi-segi yang baik.
d. Bersifat adil dan jujur,sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh penyimpangan-penyimpangan manusia.
e. Tegas dan objektif (tidak memihak),sehingga bawahannya tidak hilang dalam bayangan dari orang yang kuat pribadinya.
f. Berjiwa terbuka dan luas, sehingga dapat memberikan pengakuan dan peghargaan trhadap prestasi yang baik.
g. Tidak boleh berperasangka buruk terhadap seseorang karna telah berbuat salah.
h. Terbuka, jujur dan penuh tanggung jawab.
i. Banyak taktik, sehingga kritikannya tidak menyinggung perasaan orang lain.
j. Bersimpati terhadap guru-guru yang tidak menimbulkan depresi dan putus asa pada anggota stafnya.
k. Bersikap ramah, terbuka dan mudah dihubungi, shingga siapa saja yang memerlukannya tidak ragu untuk menghubunginya.
l. Bekerja tekun, rajin dan teliti, sehingga bias menjadi contoh untuk stafnya.
m. Personal appereance terpelihara dengan baik, sehingga dapat menimbulkan resfect dari orang sekitarnya.
n. Mempunyai perasaan cinta sedemikian rupa terhadap siswa, sehingga iia secara wajar dan serius mempunyai perhatian terhadap mereka.
(adminitrasi pendidikan/oleh daryanto.-jakarta, rineka cipta, 1996. Hal 183-184)
Seorang supervisor ketika mempunyai peran menjadi seorang pemimpin, maka Dalam menjalankan tugasnya menjadi seorang pemimpin-pun ia mempunyai peran yang lebih spesifik, diantara Peran supervisor sebagai Pemimpin menurut Gordon 1996 sebagai berikut :
1. Peran Interpersonal meliputi meliputi peran figurehead (sebagai simbol dari organisasi), leader (berinteraksi dengan bawahan, memotivasi dan mengembangkannya), dan liaison (menjalin suatu hubungan kerja dan menangkap informasi untuk kepentingan organisasi).
2. Processing Information terdiri dari tiga peran juga yakni
monitor (memimpin rapat dengan bawahan, mengawasi publikasi perusahaan, atau berpartisipasi dalam suatu kepanitiaan), disseminator (menyampaikan infiormasi, nilai-nilai baru dan fakta kepada bawahan) serta spokesman (juru bicara atau memberikan informasi kepada orang-orang diluar organisasinya).
3. Decision Making terdiri dari empat peran yaitu entrepreneur (mendesain perubahan dan pengembangan dalam organisasi), disturbance handler (mampu mengatasi masalah terutama ketika organisasi sedang dalam keadaan menururn), resources allocator (mengawasi alokasi sumber daya manusia, materi, uang dan waktu dengan melakukan penjadualan, memprogram tugas-tugas bawahan, dan mengesahkan setiap keputusan), serta negotiator (melakukan perundingan dan tawar menawar).
Dalam perspektif yang lebih sederhana, Morgan (1996 : 156) mengemukakan tiga macam peran pemimpin yang disebutnya dengan “3A”, yakni :
a. alighting (menyalakan semangat pekerja dengan tujuan individunya),
b. aligning (menggabungkan tujuan individu dengan tujuan organisasi sehingga setiap orang menuju kearah yang sama), serta
c. allowing (memberikan keleluasaan kepada pekerja untuk menantang dan mengubah cara mereka bekerja).
Selain dari itu, berbicara tentang kepemimpinan dalam ruang lingkup yang lebih kecil seperti sekolah, maka supervisor sebagai seorang pemimpin dipegang oleh kepala sekolah itu sendiri. Dalam menjabat menjadi seorang kepala sekolah, sudah tentu mepunyai peran yang lebih khusus lagi karna disini kita berbicara dalam ruang lingkup yang terlampau sangat sederhana, adapun Peran kepala sekolah sebagai supervisor adalah sebagai berikut :
1. Merencanakan program tahunan sekolah yang mencakup program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan dan penyediaan fasilitas yang diperlukan.
2. Merencanakan program akademik yang focus pada persiapan program pengajaran, seperti penyediaan kebutuhan guru, pembagian tugas mengajar, pengadaan berbagai fasilitas sekolah.
3. Merencanakan program yang kaitannya dengan kesiswaan, seperti penerimaan siswa baru, system seleksi siswa, jumlah siswa yang akan diterima, pengadaan kelas baru dan sebagainya.
4. Merencanakan bidang kepegawaian yang berkaitan dengan penerimaan guru bantu, pengadaan berbagai program yang bertujuan meningkatkan mutu pendidikan guru dalam strategi pembelajaran dan pelatihan, workshop, dan kegiatan lain yang berupaya untuk membina guru dan karyawan agar lebih professional di dalam menjalankan tugasnya.
5. Dalam bidang pengadaan dana bagi keseluruhan administrasi pendidikan, tugas kepala sekolah di antaranya adalah mengatur pemberian gaji bagi seluruh pegawai sekolah, mengajukan penambahan dana kepada pihak pemenrintah, yayasan dan lain sebagainya.
6. Merencanakan bidang sarana dan prasarana yang meliputi perbaikan dan penambahan sarana dan prasarana sekolah seperti lapangan, alat-alat laboratorium untuk praktik siswa, rehabilitasi gedung sekolah dan lain sebagainya.
Supervisor sebagai pemimpin harus bisa memberi dukungan, memotivasi dan memberikan pembelajaran kepada staf-staf bawahannya, baik itu dari segi intlektual, maupun dari segi pengalaman. Ketika menjadi seorang pemimpin maka ia adalah menjadi sosok panutan oleh orang sekitanya, sehingga dari itu, sangat perlu bagi seorang pemimpin harus mempunyai karakter dan keperibadian yang mencerminkan dirinya sebagai pemimpin. Berkaitan dengan hal itu maka sifat seorang pemimpin itu harus baik.
adapun Sifat-Sifat Pemimpin yang membawa pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yakni :
a. Kecerdasan, artinya pemimpin harus memiliki kecerdasan lebih dari pengikutnya, tetapi tidak terlalu banyak melebihi kecerdasan pengikutnya.
• Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial, artinya seorang pemimpin harus memiliki emosi yang stabil dan mempunyai keinginan untuk menghargai dan dihargai orang lain.
• Motivasi diri dan dorongan berprestasi, sehingga pemimpin akan selalu energik dan menjadi teladan dalam memimpin pengikutnya.
• Sikap-sikap hubungan kemanusiaan, dalam arti bahwa pemimpin harus menghargai dan memperhatikan keadaan pengikutnya, sehingga dapat menjaga kesatuan dan keutuhan pengikutnya
Dalam menjalankan tugas menjadi seorang pemimpin, maka supervisor harus mempunyai kemampuan-kemampuan yang akan bias membawa dampak positif bagi organisasi yang dikelolanya, berangkat dari hal itu Kemampuan menjadi seorang Pemimpin itu adalah :
• Kemampuan analitis (analytical skills), yakni kemampuan untuk menilai tingkat pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
• Kemampuan untuk fleksibel (flexibility atau adaptability skills), yaitu kemampuan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap siatuasi.
•Kemampuan berkomunikasi (communication skills), yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang Anda terapkan.
Ketiga kemampuan diatas sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin, sebab seorang pemimpin harus dapat melaksanakan tiga peran utamanya.
Dalam menjalankan roda kepemimpinan, menjadi sebuah keharusan bahwa pemimpin itu harus banyak mempunyai ide.
Kepala sekolah yang mempunyai sosok kepemimpinan yang ideal. Pemimpin yang ideal itu mempunyai kualifikasi sebagai berikut :
1. Capacity( kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan bicara, keterampilan dan kemampuan menilai )
2. Achievement ( gelar sarjana, pengetahuan, keberhasilan, kesehatan jasmani )
3. Responsibility( mandiri dan berinisiatif, tekun, agresif, percaya diri, futuristic )
4. Participation ( aktif, relationship, pandai membangun kerja sama, adaptif )
5. Status ( kedudukan social-ekonomi, popularitas )
6. Situation ( mental yang baik, status, skiil, energik, fleksibel )
Tugas kepala sekolah ketika menjadi seorang pemimpin adalah :
1. Menghadiri rapat atau pertemuan organisasi professional
2. Mengadakan rapat kelompok untuk membicarakan masalah umum
3. Melakukan classroom vitiation
4. Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-guru
5. Mengadakan pertemua-pertemuan individual dengan guru-guru tentang masalah yang di usulkan
6. Mendiskusikan metode-metode mengajar dengan guru-guru
7. Memilih dan menilai buku-buku yang diperlukan bagi murid-murid
8. Memberikan saran-saran atau instruksi tentang bagaimana melaksanakan tugas suatu unit pengajaran
9. Mengorganisasi dan bekerja dengan kelompok guru-guru dalam program revisi kurikulum
10. Memberikan pengarahan kepada guru-guru bagaimana cara menggunakan audio visual.
11. Menulis dan mengembangkan kurikulum
12. Menyiapkan laporan-laporan tertulis tentang kunjungan kelas kelas
13. Menyusun tes-tes standar bersama kepala sekolah, guru-guru
14. Merencanakan demonstrasi mengajar dan sebgainya oleh guru yang ahli, supervise sendiri, ahli-ahli lain dalam rangka memperkenalkan metode dan alat-alat baru.
15. Berwawancara dengan guru-guru dan pegawai untuk mengetahui bagaimana pandangan atau harapan mereka.
16. Membimbing pelaksanaan program testing.
17. Menyiapkan sumber-sumber atau unit pengajaran bagi keperluan guru-guru
4. Sebagai evaluator ia dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar ,dapat menilai kurikulum yang sedang di kembangkan .ia juga belajar menatap dirinya sendiri ia di bantu dalam merefleksikan dirinya, yaitu konsep dirinya (self concept ) ide / cita-cita dirinya ,(self idea ), realitas dirinya (self reality ).P.Wiggens 1965 misalnya, di akhir semester ia dapat mengadakan evaluasi diri sendiri dengan memperoleh umpan balik dari setiap peserta didik yang dapat dipakai sebagai bahan untuk memperbaiki dan meningkat kan diri.
yang harus di ubah ialah unjuk kerja para pembina pendidikan (supervisor ) yang memakai pola lama dan kebiasaan memberi pengarahan .dala iklim demokrasi ,harus ada reformasi unjuk kerja para pembina pendidikan seperti yang diungkap kan oleh Kimball Wiles (1955 ).ia menegaskan peranan severvisor ialah menbantu memberi support dan mengikut serta kan ,bukan mengarahkan terus –menerus .kalau mengarahkan terus-menerus maka tidak demokratis ,juga tidak memberi kesempatan untuk guru-guru belajar berdiri sendiri (otonom ) dalam arti profesional .guru tidak diberi kesempatan untuk berdiri sendiri atas tanggung jawab nya sendiri .pada hal ciri-ciri dari guru profesional ialah guru yang memiliki otonomi dalam arti bebas mengembangkan diri sendiri atas kesadaranya sendiri.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta, 2008, hal,25).
D. Prinsip-prinsip supervisi
Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervise dilingkungan pendidikan adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif,sikap yang konstruktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri untuk itu supervise harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif, maka prinsip supervise dilaksanakan, yaitu :
1. Prinsip ilmiah (scientific). Ciri-ciri dari prinsip ini adalah supervisi dilakukan berdasarkan data objektif yang diperoleh dari observasi, wawancara ataupun angket yang setiap kegiatan itu dilakukan dengan sistematis.
2. Prinsip demokratis. Demokratis disini mengandung makna untuk menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, yang berdasarkan rasa kesejawatan.
3. Prinsip kerjasama. Perinsip ini bermaksud saling memberi support, mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.
4. Prinsip konstruktif dan kreatif. Supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.
E. Fungsi Supervisi Pendidikan
Menurut Chester Harris 1958, fungsi utama supervisi adalah membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha perbaikan. Kemudian Burton dan Bruckner 1995 mengatakan bahwa supervisi adalah upaya menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik. Selain itu Briggs mengungkapkan bahwa supervisi itu bukan hanya perbaikan dalam proses pembelajaran saja, tapi untuk mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong kearah pertumbuhan profesi guru.
Ada analisis yang lebih luas seperti yang dibahas oleh Swearingen dalam bukunya Supervision of Instruction – Foundation and Dimension (1961). Ia memngemukakan 8 fungsi supervisi :
1. Mengkoordinasi setiap usaha usaha sekolah, seperto usaha guru, sekolah, dan usaha pertumbuhan jabatan.
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memberikan pembelajaran kepada guru-guru agar memiliki kemampuan dan keterampilan dalam kepemimpinan dalam sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru-guru dengan cara mau belajar dari pengalaman nyata dilapangan sehingga dapat memperkaya dirinya dengan pengalaman baru.
4. Memberikan fasilitas dan penilaian terus-menerus, penilaian disini harus dilakukan secara menyeluruh yang menyangkut semua aspek kegiatan sekolah dan bersifat kontinu atau dilakukan setiap saat.
5. Menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif, dengan cara menciptakan suasana yang memungkinkan guru-guru dapat berusaha meningkatkan potensi kreativitas dalam dirinya sehingga mereka adalah pelaku aktif dalam proses belajar-mengajar.
6. Menganalisis situasi belajar mengajar. Ini bertujuan untuk memperbaiki situasi belajar-mengajar dan memperoleh data mengenai aktivitas guru dan peserta didik akan memberikan pengalaman dan umpan balik terhadap perbaikan pembelajaran.
7. Memperlengkapi setiap anggota staf dengan pengetahuan dan keteramilan yang baru. Supervisi memberi dorongan stimulasi dan membantu gru agar mengembangkan pengetahuan dalam keterampilan hal mengajar.
8. Memadukan dan menyelaraskan tujuan-tujuan pendidikan dan membentuk kemampuan-kemapuan. Setiap guru pada suatu saat sudah harus mampu mengukur kemampuannya.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta, 2008, hal 21-25).
Pencet Donk Gan...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar