Cari Apa...???

Signatur

Signatur

Pencet Donk Gan...!!!


Problematika Pendidikan Islam

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan umat manusia. Karenanya manusia harus senantiasa mencari dan menuntut ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu factor penting yang mengharuskan manusia untuk selalu mengembangkan keilmuannya agar dapat beradaptasi di dunia modern yang kaya akan kemajuan ilmu dan teknologi. Seiring dengan kemajuan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia globalisasi maka perlu juga peningkatan pendidikan islam (agama) agar kita selaku umat islam senantiasa berada pada jalan yang diridhoi Allah SWT. serta tidak terpengaruh oleh budaya dan gaya hidup orang-orang barat yang secara terang-terangan sudah mewabah kepada penduduk islam dunia khususnya di Indonesia. Sekolah merupakan sarana dan tempat menuntut ilmu bagi para peserta didik, juga tempat memperkaya dan memperluas keilmuan peserta didik. Pendidikan di Indonesia dikatakan maju, hal ini bisa dilihat perkembangan sekolah yang semakin lama semakin kreatif dalam menyiapkan peserta didiknya untuk menjadi manusia yang berguna kelak. Oleh sebab itu kita sebagai calon guru harus mampu menggunakan segala kemampuan kita, sehingga peserta didik bisa menyerap ilmu kita dengan baik. Jadi kita sebagai calon guru harus profesional dalam berbagai hal, misalnya metode yang digunakan harus baik, sesuai dengan materi yang kita ajarkan, strateginya juga harus sesuai,yang penting dan perlu di miliki oleh seorang guru ialah mampu merespon peserta didik yang mempunyai banyak problem yang berbeda- beda. Guru harus bisa mengatasi problem yang dihadapi peserta didik terutama menyikapi belajar anak didik kita. Apalagi problematika pendidikan agama disekolah pasti banyak sekali problem- problemnya. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa pengertian pendidikan islam ? 2. Apasajakah problem yang dialami pendidikan islam ? 3. Apasajakah tantangan pendidikan islam ? 4. Apasajakah krisis-krisis yang dialami pendidikan islam ? 5. Bagaimana cara mengatasi problem pendidikan isam ? BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM Pendidikan adalah proses mempersiapkan masa depan anak didik dalam mencapai tujuan hidup secara efektif dan efisien. Sedangkan Pendidikan Islam menurut para tokoh ialah sebagai berikut : a. Menurut Ahmadi mendefinisikan Pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yang sesuai dengan norma Islam. b. Menurut Syekh Musthafa Al-Ghulayani memaknai pendidikan Islam adalah menanamkan akhlak mulia dalam jiwa murid serta menyiraminya dengan petunjuk dan nasehat, sehingga menjadi kecenderungan jiwa yang membuahkan keutamaan kebaikan serta cinta belajar yang berguna bagi tanah air. Dalam definisi diatas terlihat jelas bahwa pendidikan Islam itu membimbing anak didik dalam perkembangan dirinya, baik jasmani maupun rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama pada anak didik nantinya yang didasarkan pada hukum-hukum islam. Pendidikan Islam menurut pakar pendidikan Islam Dr. Muhammad S.A Ibrahim (Bangladesh) menjelaskan pendidikan Isam yang berjngkauan luas sebagai berikut : “ islamic education in true sense of the term, is a system of education which enables a man to lead his life according to the islamic ideology, so that he may easily mould his life in accordance with tenets of Islam. And thus peace and prosperity may prevail in his own life as well as in the whole world. These Islamic scheme of education is, of necessity an all embracing system, for islam encomphases the entire gamut of moeslim’ life. It can justly be said that all branches of learning which are not Islamic are included in the Islamic education. The scope of Islamic education has been changing at different times. In view of the demands of the age and the development of science and technology, its scope has also widened.” Nafas keislaman dalam pribadi seorang muslim merupakan elane vitale yang menggerakan perilaku yang diperkokoh dengan ilmu pengetahuan yang luas, sehingga ia mampu memberikan jawaban yang tepat dan berguna terhadap tantangan perkembangan ilmu dan tekhnologi karena itu pendidikan islam memiliki ruang lingkup yang berubah-ubah menurut waktu yang bebeda-beda. Ia bersikap lentur terhadap perkembangan kebutuhan umat manusia dari waktu ke waktu. B. PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL Pendidikan Islam diakui keberadaannya dalam sistem pendidikan yang terbagi menjadi tiga hal. Pertama, Pendidikan Islam sebagai lembaga diakuinya keberadaan lembaga pendidikan Islam secara Eksplisit. Kedua, Pendidikan Islam sebagai Mata Pelajaran diakuinya pendidikan agama sebagai salah satu pelajaran yang wajib diberikan pada tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Ketiga, Pendidikan Islam sebagai nilai (value) yakni ditemukannya nilai-nilai islami dalam sistem pendidikan. Walaupun demikian, pendidikan islam tidak luput dari problematika yang muncul di era global ini. Terdapat dua faktor dalam problematika tersebut, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 1. Faktor Internal a. Relasi Kekuasaan dan Orientasi Pendidikan Islam Tujuan pendidikan pada dasarnya hanya satu, yaitu memanusiakan manusia, atau mengangkat harkat dan martabat manusia atau human dignity, yaitu menjadi khalifah di muka bumi dengan tugas dan tanggung jawab memakmurkan kehidupan dan memelihara lingkungan. Tujuan pendidikan yang selama ini diorientasikan memang sangat ideal bahkan, lantaran terlalu ideal, tujuan tersebut tidak pernah terlaksana dengan baik. Orientasi pendidikan, sebagaimana yang dicita-citakan secara nasional, barangkali dalam konteks era sekarang ini menjadi tidak menentu, atau kabur kehilangan orientasi mengingat adalah tuntutan pola kehidupan pragmatis dalam masyarakat indonesia. Hal ini patut untuk dikritisi bahwa globalisasi bukan semata mendatangkan efek positif, dengan kemudahan-kemudahan yang ada, akan tetapi berbagai tuntutan kehidupan yang disebabkan olehnya menjadikan disorientasi pendidikan. Pendidikan cenderung berpijak pada kebutuhan pragmatis, atau kebutuhan pasar lapangan, kerja, sehingga ruh pendidikan islam sebagai pondasi budaya, moralitas, dan social movement (gerakan sosial) menjadi hilang. b. Masalah Kurikulum Sistem sentralistik terkait erat dengan birokrasi atas bawah yang sifatnya otoriter yang terkesan pihak “bawah” harus melaksanakan seluruh keinginan pihak “atas”. Dalam system yang seperti ini inovasi dan pembaruan tidak akan muncul. Dalam bidang kurikulum sistem sentralistik ini juga mempengaruhi output pendidikan. Tilaar menyebutkan kurikulum yang terpusat, penyelenggaraan sistem manajemen yang dikendalikan dari atas telah menghasilkan output pendidikan manusia robot. Selain kurikulum yang sentralistik, terdapat pula beberapa kritikan kepada praktik pendidikan berkaitan dengan saratnya kurikulum sehingga seolah-olah kurikulum itu kelebihan muatan. Hal ini mempengaruhi juga kualitas pendidikan. Anak-anak terlalu banyak dibebani oleh mata pelajaran. Dalam realitas sejarahnya, pengembangan kurikulum Pendidikan Islam tersebut mengalami perubahan-perubahan paradigma, walaupun paradigma sebelumnya tetap dipertahankan. Hal ini dapat dicermati dari fenomena berikut : (1) perubahan dari tekanan pada hafalan dan daya ingat tentang teks-teks dari ajaran-ajaran agama islam, serta disiplin mental spiritual sebagaimana pengaruh dari timur tengah, kepada pemahaman tujuan makna dan motivasi beragama islam untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan Islam. (2) perubahan dari cara berfikir tekstual, normatif, dan absolutis kepada cara berfikir historis, empiris, dan kontekstual dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai islam.(3) perubahan dari tekanan dari produk atau hasil pemikiran keagamaan islam dari para pendahulunya kepada proses atau metodologinya sehingga menghasilkan produk tersebut. (4) perubahan dari pola pengembangan kurikulum pendidikan islam yang hanya mengandalkan pada para pakar dalam memilih dan menyusun isi kurikulum pendidikan islam ke arah keterlibatan yang luas dari para pakar, guru, peserta didik, masyarakat untuk mengidentifikasikan tujuan Pendidikan Islam dan cara-cara mencapainya c. Pendekatan/Metode Pembelajaran Peran guru atau dosen sangat besar dalam meningkatkan kualitas kompetensi siswa/mahasiswa. Dalam mengajar, ia harus mampu membangkitkan potensi guru, memotifasi, memberikan suntikan dan menggerakkan siswa/mahasiswa melalui pola pembelajaran yang kreatif dan kontekstual (konteks sekarang menggunakan teknologi yang memadai). Pola pembelajaran yang demikian akan menunjang tercapainya sekolah yang unggul dan kualitas lulusan yang siap bersaing dalam arus perkembangan zaman. Siswa atau mahasiswa bukanlah manusia yang tidak memiliki pengalaman. Sebaliknya, berjuta-juta pengalaman yang cukup beragam ternyata ia miliki. Oleh karena itu, dikelas pun siswa/mahasiswa harus kritis membaca kenyataan kelas, dan siap mengkritisinya. Bertolak dari kondisi ideal tersebut, kita menyadari, hingga sekarang ini siswa masih banyak yang senang diajar dengan metode yang konservatif, seperti ceramah, didikte, karena lebih sederhana dan tidak ada tantangan untuk berfikir. d. Profesionalitas dan Kualitas SDM Salah satu masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia sejak masa Orde Baru adalah profesionalisme guru dan tenaga pendidik yang masih belum memadai. Secara kuantitatif, jumlah guru dan tenaga kependidikan lainnya agaknya sudah cukup memadai, tetapi dari segi mutu dan profesionalisme masih belum memenuhi harapan. Banyak guru dan tenaga kependidikan masih unqualified, underqualified, dan mismatch, sehingga mereka tidak atau kurang mampu menyajikan dan menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar kualitatif. e. Biaya Pendidikan Faktor biaya pendidikan adalah hal penting, dan menjadi persoalan tersendiri yang seolah-olah menjadi kabur mengenai siapa yang bertanggung jawab atas persoalan ini. Terkait dengan amanat konstitusi sebagaimana termaktub dalam UUD 45 hasil amandemen, serta UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang memerintahkan negara mengalokasikan dana minimal 20% dari APBN dan APBD di masing-masing daerah, namun hingga sekarang belum terpenuhi. Bahkan, pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan genap 20% hingga tahun 2009 sebagaimana yang dirancang dalam anggaran strategis pendidikan. 2. Faktor Eksternal a. Dichotomic Masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan islam adalah dichotomy dalam beberapa aspek yaitu antara Ilmu Agama dengan Ilmu Umum, antara Wahyu dengan Akal. Munculnya problem dikotomi dengan segala perdebatannya telah berlangsung sejak lama. Boleh dibilang gejala ini mulai tampak pada masa-masa pertengahan. Menurut Rahman, dalam melukiskan watak ilmu pengetahuan islam zaman pertengahan menyatakan bahwa, muncul persaingan yang tak berhenti antara hukum dan teologi untuk mendapat julukan sebagai mahkota semua ilmu. b. To General Knowledge Kelemahan dunia pendidikan islam berikutnya adalah sifat ilmu pengetahuannya yang masih terlalu general/umum dan kurang memperhatikan kepada upaya penyelesaian masalah (problem solving). Produk-produk yang dihasilkan cenderung kurang membumi dan kurang selaras dengan dinamika masyarakat. Menurut Syed Hussein Alatas menyatakan bahwa, kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan, mendefinisikan, menganalisis dan selanjutnya mencari jalan keluar/pemecahan masalah tersebut merupakan karakter dan sesuatu yang mendasar kualitas sebuah intelektual. Ia menambahkan, ciri terpenting yang membedakan dengan non-intelektual adalah tidak adanya kemampuan untuk berfikir dan tidak mampu untuk melihat konsekuensinya. c. Lack of Spirit of Inquiry Persoalan besar lainnya yang menjadi penghambat kemajuan dunia pendidikan islam ialah rendahnya semangat untuk melakukan penelitian/penyelidikan. Syed Hussein Alatas merujuk kepada pernyataan The Spiritus Rector dari Modernisme Islam, Al Afghani, Menganggap rendahnya “The Intellectual Spirit” (semangat intelektual) menjadi salah satu faktor terpenting yang menyebabkan kemunduran Islam di Timur Tengah. d. Memorisasi Rahman menggambarkan bahwa, kemerosotan secara gradual dari standar-standar akademis yang berlangsung selama berabad-abad tentu terletak pada kenyataan bahwa, karena jumlah buku-buku yang tertera dalam kurikulum sedikit sekali, maka waktu yang diperlukan untuk belajar juga terlalu singkat bagi pelajar untuk dapat menguasai materi-materi yang seringkali sulit untuk dimengerti, tentang aspek-aspek tinggi ilmu keagamaan pada usia yang relatif muda dan belum matang. Hal ini pada gilirannya menjadikan belajar lebih banyak bersifat studi tekstual daripada pemahaman pelajaran yang bersangkutan. Hal ini menimbulkan dorongan untuk belajar dengan sistem hafalan (memorizing) daripada pemahaman yang sebenarnya. Kenyataan menunjukkan bahwa abad-abad pertengahan yang akhir hanya menghasilkan sejumlah besar karya-karya komentar dan bukan karya-karya yang pada dasarnya orisinal. e. Certificate Oriented Pola yang dikembangkan pada masa awal-awal Islam, yaitu thalab al’ilm, telah memberikan semangat dikalangan muslim untuk gigih mencari ilmu, melakukan perjalanan jauh, penuh resiko, guna mendapatkan kebenaran suatu hadits, mencari guru diberbagai tempat, dan sebagainya. Hal tersebut memberikan isyarat bahwa karakteristik para ulama muslim masa-masa awal didalam mencari ilmu adalah knowledge oriented. Sehingga tidak mengherankan jika pada masa-masa itu, banyak lahir tokoh-tokoh besar yang memberikan banyak konstribusi berharga, ulama-ulama encyclopedic, karya-karya besar sepanjang masa. Sementara, jika dibandingkan dengan pola yang ada pada masa sekarang dalam mencari ilmu menunjukkan kecenderungan adanya pergeseran dari knowledge oriented menuju certificate oriented semata. Mencari ilmu hanya merupakan sebuah proses untuk mendapatkan sertifikat atau ijazah saja, sedangkan semangat dan kualitas keilmuan menempati prioritas berikutnya. C. TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM Tantangan pendidikan Islam saat ini jauh berbeda dengan tantangan pendidikan islam sebagaimana yang terdapat pada zaman klasik dan pertengahan. Baik secara internal maupun secara eksternal, tantangan pendidikan islam di zaman klasik dan pertengahan cukup berat, namun secara psikologis dan ideologis lebih muda diatasi. • Secara internal umat islam pada masa klasik masih fresh (segar). Masa kehidupan mereka dengan sumber ajaran islam, yakni Al-Qur’an dan al-sunnah masih dekat, dan semangat militansi dalam berjuang memajukan islam dan masih amat kuat. • Secara eksternal, umat islam belum menghadapi ancaman yang serius dari Negara-negara lain, mengingat keadaan Negara-negara lain (eropa dan barat) masih belum bangkit dan maju seperti sekarang. Tantanagan pendidikan islam di zaman sekarang selain menghadapi pertarungan ideology-ideologi besar dunia sebagaimana tersebut di atas, juga menghadapi berbagai kecenderungan yang tak ubahnya seperti badai besar (turbulence) atau tsunami. Menurut Daniel Bell, di era globalisasi saat ni keadaan dunia ditandai oleh lima kecenderungan sebagai berikut : 1. Kecenderungan integrasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya persaingan bebas dalam dunia pendidikan 2. Kecenderungan fragmentasi politik yang menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat. 3. Kecenderungan penggunaan tekhnologi canggih khususnya tekhnolgi komunikasi dan informsi ( TIK) seperti computer. 4. Kecenderungan interdependency (kesalingtergantungan) 5. Kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan yang mengakibatkan terjadinya pola fikir (mindset) masyarakat pengguna pendidikan, yaitu dari yang semula mereka belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan intelektual, moral,fisik, dan psikisnya, berubah menjadi belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang besar. D. KRISIS PENDIDIKAN ISLAM Hubungan antara pendidikan dengan masyarakat erat sekali, maka dalam proses pengembangannya saling mempengaruhi. Mesin pendidikan yang kita namakan sekolah dalam proses pengembangannya tidak terlepas dari gerakan mesin sosial. Mesin sosial menggerakan segenap komponen kehidupan manusia, terdiri dari sektor-sektor sosial, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan tekhnologi, politik dan agama. Masing-masing sector ini bergerak dan berkembang saling mempengaruhi menuju ke arah tujuan sosial yang telah ditetapkan. Bilamana gerakan masing-masing sector itu berada di dalam pola hidup yang harmonis dan serasi, maka masyarakat pun bergerak dan berkembang secara harmonis. Akan tetapi,jika salah satu atau beberapa sektornya mengalami ketidakharmonisan, maka sector-sektor lainnya akan terpengaruh. Dari sinilah awal dari terjadinya krisis kehidupan masyarakat yang pada gilirannya melanda sekolah, bahkan sekolah ditekan dan dibebani tugas untuk memberikan konsep-konsep penyelesaiannya. Krisis pendidikan di manapun selalu sepadan intensitasnya dengan krisis yang melanda masyarakatnya. Dimensi-dimensi sosiokultural mengalami perubahan dan pergeseran dalam nilai-nilai, disebabkan oleh sumber-sumber kekuatan baru yang mempengaruhinya. Pada masa kini masyarakat manusia sedang berada di dalam krisis itu akibat pengaruh dari kekuatan ilmu dan tekhnologi modern yang melaju dengan cepatnya, meninggalkan sector-sektor kehidupan lainnya. Fenomena sosial yang telah diteliti oleh para ahli perencanaan kebijaksanaan pendidikan misalnya, menunjukkan bukti bahwa setiap tahap kemajuan ilmu dan tekhnologi canggih, selalu membawa perubahan sosial yang sepadan atau bahkan lebih besar daripada perkiraan atau peramalan mereka. Dampak positif dan negatifnya terhadap kehidupan manusia kadang-kadang tak dapat lagi dikontrol atau diarahkan oleh lembaga-lembaga sosial dan cultural atau moral yang sengaja dibangun oleh masyarakat seperti sekolah. Akibat dari dampak negatif iptek, dalam bidang moral dan spiritual menimbulkan keresahan batin yang menyakitkan, karena kejutan-kejutan tidak terkendali lagi. Maka dari itu, masyarakat kini sedang dihinggapi kerawanan sosial dan cultural yang obat penyembuhannya sedang dicari oleh para ahli dari berbagai bidang keilmuan, disana-sini para ahli sedang melakukan diagnosis, namun proses diagnosis mereka kalah cepat dari serbuan penyakit baru susul-menyusul, sehingga kronitas penyakit itu tak dapat dibendung lagi. Maka makin membengkaklah akumulasi virus tekno-sosial yang ditularkan oleh kepesatan kemajuan iptek itu sendiri. Kita tidak menyalahkan kemajuan iptek, karena iptek telah menjadi tumpuan harapan manusia. Kita mengharapkan suatu bentuk kehidupan yang paling baik berkat kemajuan yang telah kita raih, namun pada gilirannya kita justru menanggung risiko yang makin kompleks yang mencemaskan batin kita. Itulah peta kehidupan umat manusia masa kini dan masa depan yang hanya mengandalkan kemampuan intelektualitas dan logika, tanpa memperhatikan perkembangan mental-spiritual dan nilai-nilai agama. “ tampaknya kita hidup normal tapi sebenarnya kita berada di dalam keadaan sakit. ( state of sick normality).”, kata ahli sosial futorologi, Theodore Roszak. Masyarakat sedang mengalami krisis transisi, yang makin dperkacau oleh pertikaian dan permusuhan serta dissosiasi. Dalam arena kehidupan masyarakat yang dipetakan oleh para ahli sebagai suatu kesuraman dan kekusutan karena berbagai dampak iptek yang mengerosi nilai-nilai seluruh bidang-bidang kehidupan tersebut diatas, maka apa dan dan bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Islam pada khususnya dan lembaga pendidikan pada umumnya harus berperan yang paling baik ? inilah pertanyaan yang layak diajukan kepada umat Islam, yang kedudukannya sebagai umatan wasathan di tengah-tengah masyarakat umum. Untuk menjawab pertanyaan itu, kita mengalami kesulitan yang besar bila kita mengandalkan model dan sistem pendidikan islam yang saat ini sedang berkembang atau survive untuk eksis. Kemampuan membuktikan dirinya lembaga pendidikan islam pada khususnya pernah menjadi liberating forces dari belenggu kemunduran dan keterbelakangan taraf hidup materil dan mental pada zaman permulaan sejarah pada abad kecerahannya (abad 7-14 M) telah menanggung krisis demi krisis yang kronis dan melemahkan. Self-kritik terhadap kondisi pendidikan islam masa kini antara lain dilontarkan oleh seorang guru besar pendidikan Universitas Tunis, Prof.Dr.Fhadil Al-Djamali, menyatakan antara lain sebagai berikut. “Dunia islam yang sedang dilanda kemunduran dan keterbelakangan, dan kemiskinan serta ketinggalan dalam IPTEK, tidak dapat diatasi dengan mengimpor sistem pendidikan Barat yang tidak sesuai dengan aspirasi bangsa-bangsa dunia islam. Sistem dari luar itu hanya lebih mementingan kulit dari pada isi dan mutiara, juga hanya lebih mementingankan kualitas dari pada kuantitas, tidak pula sesuai dengan makna cita-cita anak didik dalam proses pengembangan kemampuan pembawaan. Oleh karena itu, sistem tersebut tidak dapat memecahkan permasalahan Negara yang sedang membangun bahkan sering kali menimbulkan permasalahan-permasalahan baru bagi masyarakat yang menerapkan sistem itu. Prof.Dr.Fhadil Al-Djamali mengimbau agar umat islam menciptakan pendidikan yang didasari kepada keimanan kepada Allah, karena hanya iman yang benarlah yang menjadi dasar pendidikan yang benar dan memimpin kita kepada usaha yang mendalami hakikat dan menuntut ilmu yang benar sedang ilmu yang benar memimpin kita kearah amal yang shaleh. (1967, p. 31-39) beberapa ahli perencanaan kependidikan masa depan telah mengidentifikasikan krisis pendidikan yang bersumber dari krisis orientasi masyarakat masa kini, dapat pula diwujudkan wawasan perubahan sistem pendidikan islam, yang mencakup fenomena-fenomena antara lain sebagai berikut : 1. Krisis nilai-nilai 2. Krisis konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik 3. Adanya kesenjangan kredibilitas 4. Beban institusi sekolah kita terlalu besar melebihi kemampuannya 5. Kurangnya sikap idealisme dan citra remaja kita tentang perannya di masa depan bangsa 6. Kurang sensitive terhadap kelangsungan masa depan 7. Kurangnya relevansi program pendidikan di sekolah dengan kebutuhan pembangunan 8. Adanya tendensi dalam pemanfaatan secara naif kekuatan tekhnologi canggih 9. Makin membesarnya kesenjangan di antara kaya dan miskin 10. Ledakan pertumbuhan penduduk 11. Makin bergesernya sikap manusia kearah pragmatisme yang pada gilirannya membawa kea rah materialisme dan individualisme 12. Makin menyusutnya jumlah ulama tradisional dan kualitasnya E. SOLUSI PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM DI ERA GLOBAL Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Dalam menuju era globalisasi, indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif, dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Untuk itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan, dan tanggung jawab. Disamping itu, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang berwawasan global. Selain itu, program pendidikan harus diperbaharui, dibangun kembali atau dimoderenisasi sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang dipikulkan kepadanya. Sedangkan solusi pokok menurut Rahman adalah pengembangan wawasan intelektual yang kreatif dan dinamis dalam sinaran dan terintegrasi dengan Islam harus segera dipercepat prosesnya. Sementara itu, menurut Tibi, solusi pokoknya adalah secularization, yaitu industrialisasi sebuah masyarakat yang berarti diferensiasi fungsional dari struktur sosial dan sistem keagamaannya. Berbagai macam tantangan tersebut menuntut para penglola lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan Islam untuk melakukan nazhar atau perenungan dan penelitian kembali apa yang harus diperbuat dalam mengantisipasi tantangan tersebut, model-model pendidikan Islam seperti apa yang perlu ditawarkan di masa depan, yang sekiranya mampu mencegah dan atau mengatasi tantangan tersebut. Melakukan nazhar dapat berarti at-taammul wa al’fahsh, yakni melakukan perenungan atau menguji dan memeriksanya secara cermat dan mendalam, dan bias berarti taqlib al-bashar wa al-bashirah li idrak al-syai’ wa ru’yatihi, yakni melakukan perubahan pandangan (cara pandang) dan cara penalaran (kerangka pikir) untuk menangkap dan melihat sesuatu, termasuk di dalamnya adalah berpikir dan berpandangan alternatif serta mengkaji ide-ide dan rencana kerja yang telah dibuat dari berbagai perspektif guna mengantisipasi masa depan yang lebih baik. Solusi untuk mengatasi problematika pendidikan islam yaitu dengan melakukan pembaharuan. Pembaharuan adalah Proses perubahan kondisi pendidikan Islam menjadi lebih baik, Proses penyesuaian pendidikan Islam dengan perkembangan zaman, Proses revitalisasi-remanifestasi kemajuan pendidikan Islam masa lampau. Dan Pembaruan pendidikan islam era modern dilakukan karena factor : 1. Munculnya kesadaran umat Islam atas keterbelakangannya 2. Interaksi dengan dunia Barat 3. Muncul semangat pan-islamisme 4. Seruan kembali Islam yang sebenarnya (purifikasi) 5. Semakin dirasakan urgensinya IPTEK dalam memenuhi kebutuhan pragmatis BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Pendidikan islam dengan beragam sistem dan tingkatan dari waktu ke waktu senantiasa mengalami tantangan. Berbagai kemajuan atau ketertinggalan pendidikan islam sebagaimana yang terdapat dalam sejarah disebabkan kemampuannya dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi. Tantangan yang dihadapi pendidikan islam saat ini jauh lebih berat dibandingkan dengan tantangan yang dihadapi pendidikan islam di masa lalu. Era globalisasi dengan berbagai kecenderunagannya melahirkan berbagai paradigma baru dalam dunia pendidikan. Visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar mengajar, pendidik, peserta didik, manajemen, sarana prasarana, kelembagaan pendidikan dan lainnya kini telah mengalami perubahan besar. Pendidikan Islam dengan pengalamannya yang panjang seharusnya dapat memberikan jawaban yang tepat atas berbagai tantangan tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini, pendidikan islam membutuhkan sumber daya manusia yang andal, memiliki komitmen dan etos kerja yang tinggi, manajemen yang berbasis sistem dan infra-struktur yang kuat, serta standar yang unggul. Untuk dapat melakukan tugas tersebut pendidikan islam membutuhkan unit penelitian dan pengembangan yang terus berusaha meningkatkan dan pengembangan pendidikan islam. Hanya dengan usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan itulah, pendidikan islam akan dapat mengubah tantangan menjadi peluang. B. SARAN kami menyadari makalah yang kami buat masih jauh dari kesempurnaan untuk itu saran dan masukan kami harapkan untuk memperbaiki makalah selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Arifin muzayyin , Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 2011 Abudiin nata, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarat : PT Raja Grafindo Persada, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Keajaiban Email

Ketik Email_nya Sob,,,!!! :

Delivered by Zhoule Torjonk

Blogger news

Blogroll