RIYA
1. Ayat Al-Qur’an Tentang
Riya’
A. Qs An-Nisa’ : 142
Artinya : Sesungguhnya orang-orang
munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila
mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya
(dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali
sedikit sekali (Q.s An-Nahl : 142)
Maksudnya: Alah
membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai
melayani Para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka
sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
Riya Ialah: melakukan
sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau
popularitas di masyarakat.
Maksudnya: mereka
sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan
orang.
B. Qs Al-Kaahfi : 110
Artinya : Katakanlah_ Sesungguhnya
aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa
Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap
perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan
janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya" (q.s. Al-kahfi : 110)
Penjelasan : Masalah yang penting sekali, yaitu : pernyataan bahwa amal
shalih apabila dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah, maka tidak
akan diterima oleh Allah Tabaroka wata’ala.Hal itu disebabkan karena Allah Subhanahu wata’ala adalah sembahan yang sangat menolak perbuatan syirik karena sifat ke Maha cukupanNya. Sebab yang lain adalah karena Allah Subhanahu wata’ala adalah sekutu yang terbaik.
C. Qs Al-Maa’un : 4-7
Artinya : Maka kecelakaanlah bagi
orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang
yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Penjelasan : Riya ialah
melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan
tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
D. Qs Al-Baqarah : 264
Artinya :Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia
bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Penjelasan : Mereka ini
tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat
pahala di akhirat.
E. Qs Ali Imran : 135
Artinya : Dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka
ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Penjelasan : Yang
dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya
tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba.
Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya
menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.
2. Hadits Tentang Riya
a.
Niat
عَنْ اَمِيْرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ اَبِى حَفْصٍ
عُمَرَبْنِ اْلخَطَابِ بْنِ نُفِيْلِ بْنِ
عَبْدِ اْلعُزى بْنِ رِيَاحِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قُرْطِ بْنِ رَزَاحٍ بْنِ
كَعْبِ بْنِ لُؤَيِ بْنِ غَالِبِ اْلقُرَيْشِيِ اْلعَدَوِيِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَل اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ يَقُوْلُ اِنمَا
اْلَاعْمَلُ بِا النِيَاتِ وَاِنمَا لِكُلِ امْرِئٍ مَانَوَى وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ اِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلًى اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا
يَصِيْبُهَا اَوِ امْرَاَةُ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلَى مَا هَا جَرَ اِلَيْهِ
“Dari Amir al-Mukminin,Abu
Hafs Umar bin Khattab r.a bin Nufail bin Abd al-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin
Qurt bin Riyah bin Adi Ka’ab bin luay bin Ghalib al-Quraiys al-Adawi
berkata,”Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya sahnya
amal itu tergantung dengan niat. Setiap orang akan memperoleh dari apa yang
diniatkannya. Jika seseorang itu hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya tersebut diterima oleh Allah dan Rasul.
Namun, jika hijrahnya itu untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang
akan dinikahinya, maka hijrahnya tersebut sesuai dengan apa yang diniatkannya
tersebut”(HR. Bukhari and Muslim)
Rasulullah saw
mengeluarkan hadis di atas (asbab al-wurud)- nya ialah untuk menjawab
pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya
Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah yang diikuti oleh sebagian besar pejabat.
Dalam hijrah itu ada seorang laki-laki yang juga turut hijrah. Akan tetapi, niatnya bukan untuk kepentingan
perjuagan Islam, melainkan untuk hendak menikahi seorang wanita yang bernama
Ummu Qais. Wanita itu rupanya sudah bertekad untuk turrut hijrah, sedangkan
laki-laki tersebut pada mulanya memilih tinggal di Makkah. Ummu Qais hanya bersedia
dikawini di tempat tujuan hijrahnya Rasullah yakni Madinah , sehingga laki-laki
itu pun turut hijrah ke Madinah.Ketika peristiwa itu ditanyakan kepada
Rasulullah saw, apakah hijrah dengann motif itu diterima atau tidak, Rasulullah
menjawab secara umum seperti yang telah disebutkan pada hadis di atas.
Niat berperan penting
dalam ajaran Islam, khusunya dalam perbuatan yang berdasarkan perintah syara’
atau menurut sebagian Ulama merupakan sebuah perbuatan yang mengandung harapan
untuk mendapat pahala dari Allah SWT. Niat akan menentukan nilai, kualitas,
serta hasilnya, yakni pahala yang akan diperolehnya.
Orang yang berhijrah
dengan niat ingin mendapatan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang
wanita, ia tidak akan medapatkan pahala dari Allah SWT. Sebaliknya, jika
seseorang hijrah karena ingin
mendapatkan ridha dari Allah SWT, maka ia akan mendapatkannya, bahkan
keuntungan duniapun akan diraihnya. Sebenarnya, hijrah yang dimaksud pada hadis
diatas adalah berhijrah dari Makkah ke Madinah, karena pada saat itu penduduk
Makkah tidak merespon lagi dakwah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakakan Nabi
dan Umat slam. Akan tetapi, setelah
Islam jaya, hijrah tersebut lebih tepat diartikan sebagai perpindahan dari kemungkaran
atau kebatilan kepada yang hak. Namun
demikian, niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala
atau tidaknya setiap hijrah, dalam berbagai bentuknya.
Para Ulama telah
sepakat, bahwa niat itu sangat penting
dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama dalam setiap
melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, puasa, zakat
maupun haji dan lain-lain, jika dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang
salah.
Setiap orang akan
mendapatkan apa yang dia niatkan, jika niatnya baik (ikhlas) maka yang dia
terima adalah kebaikan dari Allah dan jika niatnya tidak baik, maka dia tidak
akan menerima kebaikan dari Allah.
b. Riya’ Bagian Dari Syirik Kecil
« أخوف
ما أخاف عليكم الشرك الأصغر » ، فسئل عنه ؟ فقال : « الرياء » (رواه الطبراني و
أحمد والبغاوي في الشرح السنة)
Rasulullah` bersabdah: yang paling aku takuti atas kalian
adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘wahai rasulullah, apakah syirik kecil
itu ? ‘beliau menjawab,’yaitu riya’.”(HR. Ahmad,Ath-Thabrani, dan Baghawi dalam
syarhus-sunnah)Dalam riwayat Imam Ahmad, ketika manusia sedang dikasih pahala, Allah berkata pada pelaku ria’: pergilag kalian pada orang yang dulu di dunia melihatmu, maka lihatlah apakah kamu mendapatkan balasan darinya.
Akan tetapi riya’ suatu sa’at bisa menjadi kufur akbar tergantung kondisi pelakunya. Riya’ bisa jadi kufur akbar apabila seseorang itu masuk agama atas dasar riya’ dan nifak, dia masuk islam bukan dilandasi dengan keimanan dan kecintaan, maka hukumnya berubah menjadi munafik, yang hukumnya adalah kufrun akbar.
c. Riya’ lebih Rasullah takutkan daripada kedatangannya dajjal
وعن أبي
سعيد مرفوعا : « ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟ ”
قالوا : بلى يا رسول الله قال : ” الشرك الخفي : يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته ،
لما يرى من نظر رجل » رواه أحمد
Dari abi said rasulullah bersabda : maukah kuberitahukan padamu tentang
sesuatu yang paling aku takutkan dari fitnah dajjal? Para shahabat menjawab,iya
wahai rasulullah. Rasulullah bersabda:” syirik yang tersembunyi, seseorang
bangkit untuk melaksanakan sholatnya karena ia tahu ada seseorang yang
memperhatikannya. (HR, Ahmad)Penjelasan :
·
Apabila seorang hamba beramal hanya ingin
dilihat manusia, kemudian dia melaksanakannya maka amalannya terhapus, dan ini
termasuk pada syirik kecik ditakutkan akan nerubah menjadi syirik besar.
·
Apabila seorang hamba beramal ingin mengharap
Allah dan supaya dilihat manusia, dan dia tidak ingin melepas perasaan riayak
dalam hatinya maka amalannya akan batal.
·
Yang terakhir, apabila seorang hamba beramal
ingin mengharap Allah saja, kemudian dia mencampuri riya’ dalam pertengahan
amalnya, maka keikhlasannya tidak akan rusak dia tetap mendapatkan pahala, akan
tetapi dia dinamakan lemah iman, dikarenakan dalam hatinya masih timbul rasa
riya’.
d.
Neraka
Adalah Balasan untuk Riya’
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةُ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ
اَوَّلَ اَلنَّاسِ يَقْضِيُ عَلًيْهِ يَوْمَالْقِيَامَةِ رَجُلٌ اِسْتَشْهَدَ فِى
سَبِيْلِ اللهِ فَاءَتَى بِهِ فَعَرَفَهُ نِعْمُهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ : فَمَا
عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اَشْهَدَ قَالَ: كَذَبْتَ
وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هًوَ جَرِى. وَ قَدْ قِيْلَ : ثًمَّ اَمَرَبِهِ
فَسَحَبَ عَلَى وَجْحِهِ حَتَّى اَلْقَى فِى النَّارِ. وَسَعَ اللهُ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْنَافِ اْلمَالِ فَاءَتَى
بِهِ فَعَرَفَهُ نِعْمُهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ مِنْهَا؟ قَالَ: مَا
تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ اَنْ يُنْفِقَ فِيْهَا اِلَّا اَنْفَقْتُ
فِيْهَالَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيْقَالَ هُوَ جَوَادٌ،
فَقَدْ قِيْلَ ثُّمَّ اَمَرَ بِهِ فَسَحَبَ عَلَى وَجْحِهِ حَتَّى اَلْقَى فِى
النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمُهُ اَوْ قَرَءَ اْلقُرْاَنَ
فَاءَتَ بِهِ فَعَرَفَهُ نِعَمِهِ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا؟
قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْ تُهُ وَقَرَءْتُ فِيْكَ الْقُرْاَنَ.
قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ عَالِمٌ اَوْ قَرَءْتَ
لِيْقَالَ هُوَ قَارشئٌ، ثُمَّ اَمَرَ بِهِ فَسَحَبَ عَلَى وَجْحِهِ حَتَّى اَلْقَى
فِى النَّارِ
Artinya:
“Abu Hurairah r. a.
berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda , “Sesungguhnya manusia yang pertama kali
diadili di hari kiamat adalah
orang-orang yang mati syahid di jalan Allah, maka ia didatangkan dan
diperlihatkan nikmat-nikmat sebagai pahalanya, kemudian ia melihatnya seraya dikatakan kepadanya, “Amalan apa yang engkau lakukan
sehingga memperoleh nikmat-nikat itu? Ia menjawab, “Aku berperang karena-Mu (Ya
Allah)”. Allah menjawaab , “Dusta
engkau, sesungguhnya kamu berbuat demikian supaya kamu dikatakan sebagai
pahlawan. Dan kmudian malaikat diperintahkan menyeret mukanya dan
melemparkannya ke dalam neraka; seorang yang diberi Allah harta benda, kemudian
didatangkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikkmat sebagai pahalanya lalu
ia melihatnya seraya dikatakan kepadanya, “Amalan apakah yang engkau lakukan
sehingga engkau mendapatkan nikmat itu?”, ia menjawab, “Aku tidak pernah
meninggalkan infak di jalan yang Engkau ridhai YaAllah” melainkan aku berinfak
hanya karena-Mu.” Lalu Allah SWT menjawab, “Dusta Engkau, sesungguhnya engkau
melakukan demikian itu supaya kamu
dikatakkan sebagai orang yang dermawan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat
untuk menyeret mukanya dan memasukkannya ke dalam neraka. Dan seseorang lagi
yang menuntut ilmu dan mengajarkan atau membaca Al-Qur’an, maka didatangkan dan
diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat sebagai pahalanya, lalu ia
melihatnya seraya dikatakan kepadanya,
“Amal apa yang telah engkau lakukan sehingga engakau medapatkan nikmat-nikmat itu?”
ia menjawab, “Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya dan memebaca Al-Qur’an hanya
untuk-Mu ya Allah.” Kemudian Allah SWT menjawab,”Dusta engkau, sesungguhnya
engakau menuntut ilmu supaya engkau dikatakan pintar, dan membaca Al-Qur’an
supaya kamu dikatakan Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat
untuk meyeret mukanya dan melemparnya ke dalam neraka.”
Penjelasan dari hadis diatas:
Hadis
diatas menjelaskan betapa pentingnya niat itu dalam melakukan segala hal
terutama dala konteks ibadah. Walaupun seseorang melakukan amal ibadah secara
terus menerus spenjang hidupnya, itu tidak akan ada artinya dimata Allah jika
masih diiringi sifat riya (yang ingin mendapatkan pujian, julukan sebagai orang
yang baik dan lainnya).
Hadis
diatas menggambarkan tentang orang yang melakukan amal kebaikan disertai dengan
rasa riya. Sehigga apa yang telah ia lakukan tiada berarti apa-apa karena sifat
riya tersebut. Misalnya saja seperti hadis diatas, kedudukan berperang di jalan
Allah adalah amal yang disukai Allah. Bahkan, orang yang mati syahid karena
berperang di jalan Allah di jamin oleh Allah masuk ke dalam surga-Nya. Namun
demikian, walaupun kita berperang di jalan Allah sampai mati itu bukanlah berarti menjamin kita masuk ke
dalam surga-Nya Allah, dikarenakan sifat riya. Yang dalam hal ini ingin
mendapatkan pujian dari orang lain atau supaya dianggap sebagai pahlawan.
Kesalahan hanya terdapat
pada niatnya saja, niat yang buruk akan mendapatkan ganjaran yang buruk pula.
Dan niat yang baik, akan mendapatkan kebaikan pula, bahkan kebaikan itu akan
dilipat gandakan.
Dalam melakukan kebajikan,
sifat riya adalah tantangan yang paling berat untuk dihindarkan oleh kebanyakan
manusia. Karena sangat sulit sekali menghindarkan dari pada hal itu. Terkadang
tanpa disadari riya sudah masuk ke dalam amal ibadah seseorang.
Kebanyakan orang memang
menganggap bahwa riya itu adalah masalah kecil, masalah yang tidak terlalu
penting, padahal dapat dari riya itu begitu besar sekali, sehingga riya dapat
mengantarkan seseorang itu ke dalam neraka. Seperti telah digambarkan jelas
dalam hadis tersebut.
Oleh karenanya, menjaga
sifat riya “menempel” dengan amal kebajikan harus kita dihindari. Agar tidak
terjadi kesia-siaan dalam amal ibadah kita. Apa gunanya melakukan amal ibadah
tetapi malah menjerumuskan kita ke jalan kehancuran. Kehati-hatian dalam
melakukan suatu amal kebaikan adalah hal yang harus kita lakukan, agar kita
terhindar dari malapetaka dan kesia-siaan.
Untuk menghindari diri
dari sifat riya tersebut adalah dengan senantiasa berifat ikhlas dalam
melakukan amal ibadah tersebut. Ihklas adalah ketetapan hati mencari keridhaan
Allah dan pahala dari-Nya dalam melakukan segala kebajikan. Jika kita dalam
melakukan kebajikan dengan niat yang ikhlas, maka kita akan terbebas dari sifat
riya.
SURAT YUSUF ayat 7-8
7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.
8.
(yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya
(Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, Padahal kita
(ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam
kekeliruan yang nyata.
9.
bunuhlah Yusuf atau buanglah Dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya
perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu
menjadi orang-orang yang baik."
10.
seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi
masukkanlah Dia ke dasar sumur supaya Dia dipungut oleh beberapa orang musafir,
jika kamu hendak berbuat."
11.
mereka berkata: "Wahai ayah Kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai Kami
terhadap Yusuf, Padahal Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang mengingini
kebaikan baginya.
12.
biarkanlah Dia pergi bersama Kami besok pagi, agar Dia (dapat) bersenang-senang
dan (dapat) bermain-main, dan Sesungguhnya Kami pasti menjaganya."
13.
berkata Ya'qub: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf Amat
menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau Dia dimakan serigala, sedang kamu
lengah dari padanya."
14.
mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang Kami
golongan (yang kuat), Sesungguhnya Kami kalau demikian adalah orang-orang yang
merugi."
15.
Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu
mereka masukkan dia), dan (di waktu Dia sudah dalam sumur) Kami wahyukan kepada
Yusuf: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka
ini, sedang mereka tiada ingat lagi."
16.
kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.
17.
mereka berkata: "Wahai ayah Kami, Sesungguhnya Kami pergi berlomba-lomba
dan Kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang Kami, lalu Dia dimakan
serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada Kami, Sekalipun Kami
adalah orang-orang yang benar."
18.
mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu.
Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik
perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan
Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu
ceritakan."
Penjelasan
: Menjadi orang baik-baik yaitu, mereka setelah membunuh Yusuf a.s. bertaubat
kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.
Maksudnya:
menjadi orang-orang pengecut yang hidupnya tidak ada artinya.
Maksudnya:
dalam hal ini Ya'qub memilih kesabaran yang baik, setelah mendengar cerita yang
menyedihkan itu.
Sifat Hasad yang terdapat dalam ayat
ini :
Saudara-saudara yusuf merasa bahwa
yusuf dan bunyamin lebih dicintai oleh bapak mereka, sehingga timbul rasa iri
karna mereka juga ingin mendapat kasih sayang lebih, kemudian mereka berencana
untuk membunuh yusuf. Pada suatu hari, yusuf dibawa kehutan dengan alasan untuk
berburu, lalu yusuf dimasukkan kedalam sumur dengan tujuan, supaya yusuf hilang
dari rumah supaya semua kasih sayang bapaknya berpindah kepada mereka
(saudara-saudara yusuf). Pada Akhirnya mereka berbohong kepada ayah mereka bahwa
yusuf mati di makan Srigala.
Intinya :
Karna Ada sifat Hasad, maka
timbullah rasa ingin membunuh, yang kemudian juga dibarengi dengan kebohongan.

Komentarnya Gan jangan lupa
BalasHapusIjin copas...
BalasHapusSemoga Bermanfaat untuk akhi dan ukhti...
BalasHapusAlhamdulillah tambah wawasan
BalasHapusIzin salin ke buku :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus👍
BalasHapusAlhamdulillah, copas ya
BalasHapus