BAB II
PEMBAHASAN
MANAJEMEN
A. KONSEP DASAR MANAJEMEN PENDIDIKAN
1. Definisi manajemen pendidikan
Manajemen pendidikan berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pendidikan, jadi sebelum kita labih lanjut membahas tentang apa itu manajemen pendidikan, maka terlebih dahulu kita tau makna perkata dari manajemen pendidikan itu sendiri.
Johnson 1973 mendefinisikan menejemen itu adalah peroses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan.
(Manajemen pendidikan indonesia/oleh made pidarta.-Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Hal 3).
Yang selanjutnya adalah pengertian tentang pendidikan, Driyarkara (1980) mengatakan pendidikan itu adalah memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ketaraf mendidik. Kemudian Dalam dictionary of education dinyatakan bahwa pendidikan adalah proses seorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya didalam masyarakat tempat mereka hidup.
(Landasan manajemen pendidikan/oleh nanang fatah.-bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan ke 11, 2011. Hal 4-5).
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen pendidikan adalah sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan Negara.
2. Tujuan manajemen pendidikan
Yang menjadi tujuan utama pendidikan menurut Shord Dan Voich 1974 yaitu “produktivitas dan kepuasan seoerti meningkatkan mutu pendidikan/lulusannya, profit yang tinggi, pemenuhan kesempatan kerja, pembangunan nasional, tanggung jawab sosial. Tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap sikon organisasi.
(Landasan manajemen pendidikan/oleh nanang fatah.-bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan ke 11, 2011. Hal 15).
Terlepas dari tujuan dan manfaat manajemen pendidikan diatas, bangsa indonesia juga mempunyai tujuan pendidikan yang telah tertera dalam undang-undang RI nomor 20 tahun 2003 sebagai berikut :
“Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” UURI, No. 20 tahun 2003, h. 5
(Manajemen pendidikan indonesia/oleh made pidarta.-Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Hal 6)
3. Peranan manajemen pendidikan
Setiap manajer minimal mempunyai tiga peranan, yaitu :
1. Peranan interpersonal
Peranan interpersonal meliputi kepala sekolah madrasah sebagai :
a. Figure head (kepala sekolah madrasah sebagai lambing atau simbol),
b. Pemimpin (leader), dan
c. Penghubung (liaison).
2. Peranan informasional
Menerima dan menyampaikan informasi adalah aspek terpenting bagi setiap manajer Peranan informasional meliputi peranan sebagai monitor (mencari Informasi), disseminator (penghubung) dan spokesperson (Diplomat).
3. Peranan Decisional
Peranan decisional meliputi : Enterpreneur (perubahan dan pengembangan dalam organisasi), Disturbance hander (Mampu mengatasi masalah), Resources allocator (mengawasi alokasi SDA dan program tugas) dan Negotiator (Perundingan dan tawar menawar).
(Http://Suryaunipa.Wordpress.Com/Peranan-Manajemen-Pendidikian.tgl.12.06.2013.jam.14.25)
4. Keterampilan manajerial
Menurut Hersey, 1978 bahwa ada tiga macam keterampilan manajer yaitu yang pertama adalah Keterampilan konsep ialah keterampilan untuk memahami dan mengoprasikan organisasi. Yang kedua adalah keterampilan manusiawi ialah keterampilan untuk bekerja sama, memotivasi, dan mengarahkan. Yang terakhir adalah keterampilan teknik ialah keterampilan dalam dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik, dan perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Proporsi ketiga macam keterampilan itu bagi ketiga tingkat manajer dapat digambarkan sebagai berikut :
Keterampilan manajerial Level
Manager Bertanggung jawab ke
Konseptual
40%
50%
10% Top
Manager Atasan langsung atau
pemilik perusahaan
25% Manusiawi
40%
25% Middle
Manager Top
Manager
10%
50% teknik
40% Low
Manager Middle
Manager
(Manajemen pendidikan indonesia/oleh made pidarta.-Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Hal 204-230)
B. Objek Garapan Manajemen Pendidikan
1. Siswa
Siswa Adalah salah satu ruang lingkup manajemen pendidikan yang berkaitan erat dengan penataan serta pengaturan terhadap kegiatan kesiswaan. yang termasuk dalam bidang kegiatan kesiswaan mencakup :
1. Mengatur pelaksana penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru.
2. Mengelola layanan bimbingan dan konseling
3. Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa, serta
4. Mengatur dan mengelola kegiatan ekstrakulikuler.
2. Personalia
Personalia Adalah semua anggota organisasi yang bekerja untuk kepentingan organisasi yaitu untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan personalia. Manajer yang dipegang oleh beberapa guru. Bidang personalia mencakup kegiatan :
a) Mengatur pembagian tugas guru
b) Mengajukan kenaikan pangkat, gaji dan mutasi guru
c) Mengatur program kesejahteraan guru
d) Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru
e) Mencatat masalah dan keluhan-keluhan guru
Adapun tujuan pendidikan personalia menurut Sikula, 1976. adalah : 1) untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas output, 2) merealisasi perencanaan personalia, 3) meningkatkan moral kerja, 4) meningkatkan keamanan, kesehatan dan kesejahteraan, dan 5) mengembangkan personalia.
(Manajemen pendidikan indonesia/oleh made pidarta.-Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Hal 108-115)
3. Kurikulum
Merupakan pundamen penting yang senantiasa ada dalam setiap manajemen pendidikan. Manajemen ini mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh departemen pendidikan nasional pada tingkat pusat.
4. Sarana dan prasarana
Manajemen pendidikan yang mencakup sarana seperti peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan untuk menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar seperti : gedung, ruang, kelas, serta alat-alat media pengajaran. Sedangkan manajemen material mencakup seperti : halaman, kebun, taman, sekolah, serta jalan menuju sekolah. Bidang sarana dan prasarana, mencakup kegiatan :
1. Penyediaan dan seleksi buku pegangan guru
2. Layanan perpustakaan dan laboraturium
3. Penggunaan alat peraga
4. Kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah
5. Keindahan dan kebersihan kelas, dan
6. Perbaikan kelengkapan kelas.
C. Fungsi-Fungsi Manajemen
1. Perencanaan (Planning)
Menururt Rogger A. Kauffman, pengertian Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.
Rogger berpendapat bahwa ada tiga kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam perencanaa, Yaitu :
a. Perumusan tujuan yang ingin dicapai,
b. Pemilihan program untuk mencapai tujuan, dan
c. Identifikasi dan pengarahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas.
Adapun metode-metode penetapan perencanaan yang secara umum dapat juga diterapkan dalam bidang pendidikan ditemukan oleh Augus W. Smith (1982), antara lain : Metode analisis mengenai alat-cara-tujuan, Metode analisis input-output, Metode analisis ekonometrik, Metode diagram sebab akibat, Metode delphi, Metode heuristik, Metode analisis siklus kehidupan, Metode analisis nilai tambah.
(Landasan manajemen pendidikan/oleh nanang fatah.-bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan ke 11, 2011. Hal 49-53).
2. Pengorganisasian (Organizing)
Istilah pengorganisasian mempunyai makna sebagai proses membagi kerja kedalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan tertentu.
Adapun proses pengorganisasian menurut Ernest Dale (Stoner, 1986) yaitu sebuah proses yang berlangkah jamak yang digambarkan sebagai berikut :
a) Mendeskripsikan pekerjaan dalam tugas-tugas pelaksanaan
b) Mengklasifikasikan tugas-tugas pelaksanaan dalam pekerjaan-pekerjaan operasional
c) Mengumpulkan pekerjaan-pekerjaan operasional dalam kesatuan-kesatuan yang berhubungan dan dapat dimenejemen
d) Menetapkan syarat-syarat pekerjaan
e) Menyelidiki dan menempatkan orang perorangan pada pekerjaan yang tepat.
(Landasan manajemen pendidikan/oleh nanang fatah.-bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan ke 11, 2011. Hal 71-72).
3. Menggerakkan (actuating)
Dalam fungsi menggerakkan, manajer mempunyai deskripsi pekerjaan sebagai berikut :
a. Memberitahu dan menjelaskan tujuan-tujuan kepada para bawahan
b. Menejemani dan mengajak para bawahan untuk pekerja dengan semaksimal mungkin
c. Membimbing tenaga kerja bawahan untuk mencapai standar operasional
d. Mengembangkan tenaga kerja bawahan guna merealisasikan kemungkinkan-kemungkinan sepenuhnya
e. Memberikan orang-orang hak untuk mendengarkan
4. Pengendalian (Controling)
Controling menurut Robbins 1982 adalah proses memonitor aktivitas-aktivitas untuk mengetahui apakah individu-individu dan organisasi itu sendiri memperoleh dan memanfaatkan sumber-sumber pendidikan secara efektif dan efisiens dalam rangka mencapai tujuan dan memberi korerksi bila tidak tercapai.
Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pengawasan menurut Massie 1973, yaitu : 1. Tertuju kepada strategi sebagai kunci sasaran yang menentukan keberhasilan, 2. Kontrol harus menggunakan umpan balik sebagai bahan revisi mencapai tujuan, 3. Harus fleksibel dan resposif terhadap perubahan-perubahan kondisi dan lingkungan, 4. Cocok dengan organisasi pendidikan, 5. Merupakan kontrol diri sendiri, 6. Bersifat langsung, 7. Memperhatikan hakikat manusia dalam mengontrol para petugas pendidikan.
(Manajemen pendidikan indonesia/oleh made pidarta.-Jakarta: Rineka Cipta, 2004. Hal 158-160).
BAB III
PEMBAHASAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
A. Pengertian Administrasi Pendidikan
The Liang Gie berpendapat bahwa Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penatapan terhadap pekerjaan pokok yang yang dilaksanakan oleh sekelompok orang dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. (Administrasi Pendidikan/ oleh Drs. H.M. Darwanto-Jakarta: Rineka Cipta, 1996,hal, 7).
Menurut Robert E. Wilson dalam bukunya, Educaational administration, 1966, Mengemukakan: “ Educational Administration is the coordination of forces necessary for the good instruction of all children within a school organization into on orderly plan for accomplishing the unit’s objectives, and the assuring of their proper accomplishment.”5). (Administrasi dan Supervisi Pendidikan/oleh Drs.M. Ngalim Purwanto, MP,-Jakarta: Remaja Rosdakarya,2012,hal, 4).
B. Prinsip Dasar Administrasi Pendidikan
Berikut ini merupakan dasar yang perlu diperhatikan agar administrator dapat mencapai sukses dalam tugasnya. Beberapa dasar dalam administrasi antara lain :
1. Prinsip Efisiensi
Administrator akan berhasil dalam tugasnya bila dia menggunakan semua sumber, tenaga, dana, dan fasilitas yang ada secara efisien.
2. Prinsip Pengelolaan.
Administrator akan memperoleh hasil yang efektif dan efisien dengan cara melakukan pekerjaan manejemen, yakni merencanakan, mengorganisasikan, dan pengontrolan.
3. Prinsip Kepemimpinan yang Efektif
Seorang administrator akan berhasil dalam tugasnya apabila ia memiliki gaya kepemimimpinan yang efektif, yakni memperhatikan hubungan antar manusia , Pelaksanaan tugas serta memperhatikan situasi dan kondisi (sikon) yang ada.
4. Prinsip Kerjasama
Administrator dikatakan berhasil dalam melakukan tugasnya bila ia mampu mengembangkan kerjasma antara seluruh anggota baik secara horizontal maupun secara vertikal.
(Administrasi Pendidikan/oleh Drs.H.M. Daryanto-Jakarta : Rineka Cipta 1996,hal,12-14).
C. Tujuan Adminitrasi Pendidikan
Tujuan administrasi pendidikan pada umumnya adalah agar semua kegiatan mendukung tercapainya tujuan pendidikan, dengan kata lain administrasi yang digunakakn dalam dunia pendidikan diusahakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Administrasi pendidikan semakin rumit karena menyangkut masyarakat, orang tua murid, yang terlibat langsung dalam pendidikan itu. Oleh karena itu, semakin baik administrasi pendidikan ini, semakin yakin pula bahwa tujuan pendidikan itu akan tercapai dengan baik. Sergiovanni dan Carver (1975) menyebutkan empat tujuan administrasi yaitu : Efektifitas produksi, Efisiensi, Kemampuan menyesuaikan diri (adaptivenes), Kepuasan kerja.
Keempat tujuan tersebut dapat digunakan sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan dalam penyelenggaraan sekolah.
(Administrasi Pendidikan/ oleh Drs. H.M. Darwanto-Jakarta:Rineka Cipta,1996,hal 17).
D. Administrasi Pendidikan dan Administrasi Sekolah
Istilah lain yang sering dikaitkan dengan administrasi pendidikan adalah administrasi sekolah. Administrasi sekolah didefinisikan sebagai seni dan ilmu pengintegrasian secara kreatif ide-ide, material, dan orang dalam satu kesatuan organik atau unit yang bekerja secara harmonis untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Drs, M. Ngalim Purwanto MP dalam bukunya “Administrasi dan Supervisi Pendidikan.-Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012,cetakan ke 10, hal 8-9). berpendapat, administrasi pendidikan mengandung pengertian yang lebih luas daripada administrasi sekolah. Administrasi sekolah bagian dari administrasi pendidikan. Administrasi pendidikan meliputi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan pendidikan di suatu Negara atau bahkan pendidikan pada umumnya. Sedangkan administrasi sekolah kegiatan-kegiatannya terbatas pada pelaksanaan pengelolaan pendidikan di sekolah sehingga kita mengenal adanya administrasi sekolah dasar, administrasi sekolah lanjutan, administrasi perguruan tinggi, dan sebagainya. Semua itu termasuk di dalam dan merupakan baguan dari administrasi pendidikan.
BAB IV
SUPERVISI
A. Pengertian supervisi pendidikan
Supervisi mempunyai dua konsep, yang pertama adalah konsep lama yang mengatakan bahwa Supervisi adalah Inspeksi/pengawasan yang mempunyai tugas untuk mencari-cari kesalahan untuk bisa diperbaiki. Sementara konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut : “Supervision is assistance in the depolepment of a be teaching learning situation”. Supervise adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan superrvisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an enviroum). Dengan demikian layanan supervise tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta,2008,hal,18).
supervisor mempunyai syarat-syarat yang harus ada dalam dirinya sendiri, sehingga ia bias menjadi supervisor yang baik, adapun syarat-syarat supervisor itu adalah :
a. Mempunyai perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat menilai orang secara teliti serta dapat bergaul dengan baik.
b. Dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh-sungguh semua kepercayaan yang diberikan oleh orang yang berhubungan dengannya.
c. Berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengharapkan yang baik, dan melihat segi-segi yang baik.
d. Bersifat adil dan jujur,sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh penyimpangan-penyimpangan manusia.
e. Tegas dan objektif (tidak memihak),sehingga bawahannya tidak hilang dalam bayangan dari orang yang kuat pribadinya.
f. Berjiwa terbuka dan luas, sehingga dapat memberikan pengakuan dan peghargaan trhadap prestasi yang baik.
g. Tidak boleh berperasangka buruk terhadap seseorang karna telah berbuat salah.
h. Terbuka, jujur dan penuh tanggung jawab.
i. Banyak taktik, sehingga kritikannya tidak menyinggung perasaan orang lain.
j. Bersimpati terhadap guru-guru yang tidak menimbulkan depresi dan putus asa pada anggota stafnya.
k. Bersikap ramah, terbuka dan mudah dihubungi, shingga siapa saja yang memerlukannya tidak ragu untuk menghubunginya.
l. Bekerja tekun, rajin dan teliti, sehingga bias menjadi contoh untuk stafnya.
m. Personal appereance terpelihara dengan baik, sehingga dapat menimbulkan resfect dari orang sekitarnya.
n. Mempunyai perasaan cinta sedemikian rupa terhadap siswa, sehingga iia secara wajar dan serius mempunyai perhatian terhadap mereka.
(adminitrasi pendidikan/oleh daryanto.-jakarta, rineka cipta, 1996. Hal 183-184)
B. Jenis kegiatan dan Tujuan supervisi
Secara singkat evaluasi program merupakan upaya untuk mengukur ketercapaian program / kegiatan, yaitu mengukur sejauh mana sebuah kebijakan dapat terimplementasikan. Jenis kegiatannya berupa seperti : kegiatan membaca, program seminar, program UKS.
Menurut Olive (1984) Tujuan supervisi pendidikan yang dominan ialah:
1. Mengembangkan kurikulum yang sedang di laksanakan di sekolah.
2. Meningkatakan proses belajar mengajar di sekolah.
3. Mengembangkan seluruh staff di sekolah.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta, 2008, hal,19).
C. Peranan supervisi pendidikan
Mengenai peranan supervise yang dikemukakan oleh Peter . F. Olivia, 1976 bahwa peranan supervisor ialah:
a) Sebagai Koordinator. Maksud dari sebagai kordinator yaitu ia dapat mengkoordinasikan program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru, cnth : kongkrit mengkordinasi tugas mengajar satu mata pelajaran yang dibina oleh berbagbai guru.
b) Sebagai konsultan maka ia dapat member bantuan, bersama mengkolsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok.
c) Sebagai leader. Maksudnya adalah bahwa ia dapat memimpin sejumlah staf guru dalam pengembangan potensi kelompok. Pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan professional guru-guru secara kurukulum. Ia juga dapat mengembangkan keterampilan dan kiat-kiat dalam working for the group, working with the group dan Working for the Group.
d) Sebagai evaluator. Dengan menjadi evaluator menurut P. Wiggens, 1965. Bahwa ia juga dapat menatap dirinya sendiri dengan cara merefleksikan Self concept, Self idea,dan Self Reality. Akan tetapi Kimball Wiles 1995 menegaskan bahwa peranan supervisor ialah membantu, men-Support dan Mengikutsertakan, bukan mengarahkan terus menerus.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta, 2008, hal,25).
D. Prinsip-prinsip supervisi
Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervise dilingkungan pendidikan adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif,sikap yang konstruktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri untuk itu supervise harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif, maka prinsip supervise dilaksanakan, yaitu :
1. Prinsip ilmiah (scientific). Ciri-ciri dari prinsip ini adalah supervisi dilakukan berdasarkan data objektif yang diperoleh dari observasi, wawancara ataupun angket yang setiap kegiatan itu dilakukan dengan sistematis.
2. Prinsip demokratis. Demokratis disini mengandung makna untuk menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, yang berdasarkan rasa kesejawatan.
3. Prinsip kerjasama. Perinsip ini bermaksud saling memberi support, mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.
4. Prinsip konstruktif dan kreatif. Supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan.
E. Fungsi Supervisi Pendidikan
Menurut Chester Harris 1958, fungsi utama supervisi adalah membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha perbaikan. Kemudian Burton dan Bruckner 1995 mengatakan bahwa supervisi adalah upaya menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik. Selain itu Briggs mengungkapkan bahwa supervisi itu bukan hanya perbaikan dalam proses pembelajaran saja, tapi untuk mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong kearah pertumbuhan profesu guru.
Ada analisis yang lebih luas seperti yang dibahas oleh Swearingen dalam bukunya Supervision of Instruction – Foundation and Dimension (1961). Ia memngemukakan 8 fungsi supervisi :
1. Mengkoordinasi setiap usaha usaha sekolah, seperto usaha guru, sekolah, dan usaha pertumbuhan jabatan.
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah, memberikan pembelajaran kepada guru-guru agar memiliki kemampuan dan keterampilan dalam kepemimpinan dalam sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru-guru dengan cara mau belajar dari pengalaman nyata dilapangan sehingga dapat memperkaya dirinya dengan pengalaman baru.
4. Memberikan fasilitas dan penilaian terus-menerus, penilaian disini harus dilakukan secara menyeluruh yang menyangkut semua aspek kegiatan sekolah dan bersifat kontinu atau dilakukan setiap saat.
5. Menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif, dengan cara menciptakan suasana yang memungkinkan guru-guru dapat berusaha meningkatkan potensi kreativitas dalam dirinya sehingga mereka adalah pelaku aktif dalam proses belajar-mengajar.
6. Menganalisis situasi belajar mengajar. Ini bertujuan untuk memperbaiki situasi belajar-mengajar dan memperoleh data mengenai aktivitas guru dan peserta didik akan memberikan pengalaman dan umpan balik terhadap perbaikan pembelajaran.
7. Memperlengkapi setiap anggota staf dengan pengetahuan dan keteramilan yang baru. Supervisi memberi dorongan stimulasi dan membantu gru agar mengembangkan pengetahuan dalam keterampilan hal mengajar.
8. Memadukan dan menyelaraskan tujuan-tujuan pendidikan dan membentuk kemampuan-kemapuan. Setiap guru pada suatu saat sudah harus mampu mengukur kemampuannya.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta, 2008, hal 21-25).
F. Proses Supervisi Pendidikan
Dalam pelaksanaanya atau proses supervisi pendidikan terlibat adanya berbagai ragam/corak seperti :
1. Supervisi yang Preventif
Dalam proses supervisinya, supervisor senantiasa berusaha mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dengan berusaha memberikan nasehat-nasehat dan saran-saran untuk menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan serta kesulitan-kesulitan yang mungkin bisa terjadi.
2. Supervisi yang Korektif
Dalam proses supervisinya, supervisor lebih bersifat mencari kesalahan-kesalahan bawahannya, baik kesalahan-kesalahan prinsipiil, teknis maupun dalam melaksanakan instruksi-instruksi/ketentuan-ketentuan yang telah diberikan oleh pihak supervisor.
3. Supervisi yang Konstruktif
Supervisor senantiasa berusaha membangkitkan semangat membangun, mengembangkan potensi bawahannya demi peningkatan prestasi dan produksivitas kerja. Pembinaan dan kritik yang bersifat membangun adalah ciri dan proses dari supervisi ini.Dalam kependidikan supervisi semacam ini, cenderung mengikuti asas Tut Wuri Handayani.
4. Supervisi yang Kreatif
Supervisor senantiasa memperhatikan pada inisiatif, daya cipta, penelitian, kepemimpinan dan hasil-hasil penemuan bawahannyadengan memberikan penghargaan, piagam atau predikat-predikatketeladanan.
5. Supervisi yang Koorperatif.
Supervisor selaku menggunakan kerjasama, partisipasi, musyawarah,toleransi dengan bawahannya demi kemajuan dan pengembanagan pendidikan. Kegiatan-kegiatan perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi selalu mengikut sertakan bawahannya seluas-luasnya. diinginkan dengan berusaha memberikan nasehat-nasehat dan saran-saran untuk menghindariterjadinya kesalahan-kesalahan serta kesulitan-kesulitan yangmungkin bisa terjadi.
(Http://Suryaunipa.Wordpress.Com/Prose-Supervisi-Pendidikian.tgl.12.06.2013.jam.14.25)
G. Tekhnik - Tekhnik Supervisi Pendidikan
Usaha untuk menbantu meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya guru dapat di laksanakan dengan bebagai alat (device) umumnya alat dan tecnik supervise dapat di bedakan dlam 2 macam tecknik.(John Minor Gwyn 1963) yaitu :
1. Tekhnik Perseorangan
Yang dimaksud teknik persorangan ialah supervisi yang dilakukan secara perseorangan, beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:
1) Mengadakan kunjungan kelas (classroom visitation).
2) Mengadakan kunjungan observasi (observation visits), Guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu.
3) Membimbing guru tentang cara-cara mengatasi problema yang dialami siswa.
4) Membimbing guru dalam hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah.
5) melaksanakan teknik-teknik evaluasi pembelajaran, menggunakan media dan sumber dalam proses belajar mengajar, dan mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler
2. Tekhnik Kelompok
Teknik kelompok ialah supervisi yang dilakukan secara kelompok, beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:
1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting), Seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusun. Termsuk mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru, dalam hal ini rapat-rapat yang diadakan dalam rangka kegiatan supervisi.
2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions), Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Di dalam setiap diskusi, supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan, bimbingan, nasihat-nasihat dan saran-saran yang diperlukan.
3) Mengadakan penataran-penataran (inservice-training), Teknik ini dilakukan melalui penataran-penataran, misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu. Mengingat bahwa penataran pada umumnya diselenggarakan oleh pusat atau wilayah, maka tugas kepala sekolah adalah mengelola dan membimbing pelaksanaan tindak lanjut (follow-up) dari hasil penataran.
(konsep dasar dan tehnik supervise pendidikan/ oleh piet A. sahertian.-jakarta: rineka cipta, 2008, hal,87-115).
Pencet Donk Gan...!!!
Langganan:
Postingan (Atom)

terimakasih atas informasinya..
BalasHapus